Saturday, June 11, 2016
A lovely commuter called Monika
Komuter (berasal dari bahasa Inggris Commuter; dalam bahasa Indonesia juga disebut penglaju atau penglajo) adalah seseorang yang bepergian ke suatu kota untuk bekerja dan kembali ke kota tempat tinggalnya setiap hari, biasanya dari tempat tinggal yang cukup jauh dari tempat bekerjanya.
Saya setuju dengan definisi versi wikipedia karena sesuai dengan kondisi saya. Jadi begini, saya bekerja di Jakarta, rumah di Bekasi, kadang-kadang tinggal di Bogor juga. Tapi sumpah, KTP saya Bekasi, dan saya terdaftar di lingkungan saya tinggal. Akibatnya, setiap Senin sampai Jumat aktivitas saya adalah bolak balik Bekasi - Jakarta untuk bekerja. Oke, intinya hampir setiap hari saya menyesaki udara Jakarta untuk beraktivitas.
Sebagai seorang komuter, transportasi adalah kunci sukses untuk survive di tempat tujuan. Ada beberapa pilihan transportasi yang bisa saya gunakan, mulai dari naik mikrolet 26 jurusan Kalimalang - Kampung Melayu, Kereta commuterline, kendaraan pribadi, gojek, grabcar, atau jalan sehat bisa dilakukan. Tapi dari semua opsi itu, yang sering saya gunakan adalah kereta commuterline yang lebih terkenal dengan sebutan KRL dan naik kendaraan sendiri (kata sendiri perlu di emphasize untuk menunjukkan saya bukan pejabat yang bawa kendaraan dinas). Dua transportasi itu sangat akrab dengan saya sejak saya tinggal di Bekasi. Apakah saya tidak pernah menggunakan mikrolet? Jawabannya pernah, tapi frekuensinya tidak sebanyak dua jenis transportasi tadi.
Di postingan saya sebelum-sebelumnya, saya pernah menyampaikan plus minus menggunakan dua transportasi ini, kali ini saya ingin membagi pengalaman menjadi seorang komuter yang lovely.. (mohon abaikan ke-alay-an saya).
Postingan ini saya buat karena saya mengalami banyak hal seminggu ini terkait dengan perjalanan kekomuteran saya. Kejadiannya dimulai dari Senin lalu yang juga hari pertama umat Islam puasa Ramadhan. Jadwal kerja saya memang berubah menjadi jam 08.00 sampai jam 15.00. Saya berangkat seperti biasa, jam 06.30. Tapi ketika saya menyusuri tol Cikampek... Oh My God, macet tralala trilili. Saya pikir kalau saya berangkat seperti biasa, sementara jam masuk kantor lebih lambat setengah jam, saya akan diuntungkan dan bisa datang lebih pagi, tapi realitanya sungguh berbeda. Baiklah, ini Qodratullah.. sudah kehendak Allah memang begini. Saya tetap berpikir positif bahwa nanti ketika pulang lalu lintas akan lebih bersahabat dengan saya. Alhamdulillah, lalu lintas memang lagi pro ke saya, Hanya diperlukan waktu satu jam untuk sampai rumah dengan waktu pulang yang jam 15.00. Saya masih bisa begini begitu menyiapkan buka puasa. (namanya juga emak-emak).
Hari berikutnya, kejadian di pagi hari sebelumnya berulang. Macet tak terkira. Tapi waktu itu saya berpikir memang salah saya yang berangkat setengah jam lebih lambat dari jadwal keberangkatan saya. Tapi masih aman, saya tidak terlambat seperti yang dialami beberapa rekan kerja saya, padahal jarak rumah mereka ke kantor hanya 4 km (mereka tinggal di rumah dinas). Nah pulangnya, penderitaan di pagi hari berulang di sore hari. Ini jadi semacam pengambilan sampel yang berulang dengan replacement. Peluangnya sama terus euy...
Waktu pulang macet-macetan itu, saya sering membatin, kenapa tadi ga naik commuterline aja, Jadi bisa lebih cepat sampai rumah. Ga apa-apa lah berdesak-desakan (oiya, berdesak-desakan adalah salah satu fitur yang disajikan commuterline) yang penting sampai rumah on time. Kalau ramadhan saya tidak boleh terlambat masuk dan tidak boleh terlambat pulang. Nanti siapa yang nyiapin buka puasa? (ini emak-emak sok berarti banget ya). Tapi yang seperti itu kan tidak bisa disesali, soalnya saya sudah terjebak macet di tol cikampek.
Tol cikampek itu, adalah tol favorit para truk dan komuter Bekasi-Jakarta. Keberadaan tol ini sama pentingnya dengan oksigen yang saya hirup setiap detik. Mereka yang hendak bepergian ke Bandung dari Jabodetabek, harus melalui tol ini. Begitu juga dengan para pengusaha yang memiliki pabrik di Kawasan Industri di Bekasi dan Karawang yang hendak mendistribusikan barangnya melalui pelabuhan dan bandara atau para importir yang hendak mengambil barangnya dari pelabuhan. Sejak tol Cikampek terintegrasi dengan tol Cipularang dan JORR, kesesakan tol ini sangat terasa. Bisa melalui tol ini dengan kecepatan 80 km/jam rasanya seperti menjuarai race Formula 1 karena penggunaan gear 5 itu jarang terjadi pada rush hour. Kemacetan ini semakin didukung sejak dibukanya kembali Halim Perdana Kusuma untuk penerbangan komersil. Kenapa? karena traffic light Halim seperti tak berdaya mengatur aliran kendaraan yang hendak ke bandara. Apalagi kalau sudah jelang weekend, long weekend, dan holiday. Ampun deh, terkadang saya butuh waktu satu jam untuk lolos dari exit Halim sampai ke Cawang.
Terus kalau lagi terkena traffic jam, saya ngapain?. Pertama, saya berpikir positif dulu. Oh ini mungkin ada voorijder yang lagi mengawal pejabat atau orang penting. Percaya deh, saya pernah sampai di overtake 5 voorijder ketika pulang kantor. itu artinya ada lima orang penting yang melalui tol Cikampek. Atau saya akan berpikir mungkin ada kecelakaan, aduh kasihan banget, mudah-mudahan dia ga kenapa-kenapa, kalau kenapa-kenapa juga jangan sampai lebih kenapa-kenapa lagi.
Kedua, saya akan bersikap pasrah mengarah tidak peduli. Oke ini macet, mari kita nikmati kebersamaan ini dengan para truk dan kendaraan lainnya yang terjebak macet sambil mendengarkan radio. Atau mendengarkan koleksi mp3 saja yang belum saya update playlistnya. Sebenarnya saya tidak punya playlist yang banyak, paling dalam satu playlist itu ada 5-7 lagu yang durasinya 3-4 menit. Jadi kalau terjebak macet, saya bisa mendengarkan playlist itu sampai beberapa kali, akibatnya otak saya keracuanan lagu yang ada di playlist tersebut. Masalah akan bertambah besar, ketika playlist yang saya masukkan adalah lagu korea. Hahaha... masalah besar buat saya yang ga ngerti bahasa korea. Akhir-akhir ini saya lagi suka mendengar lagunya eric nam yang beberapa bulan lalu merilis mini album yang judulnya interview. Alhasil saya keracunan lagu-lagunya eric nam.
Ketiga, kalau saya terjebak macet, saya akan melakukan perawatan diri. Di mobil, saya menyediakan handbody, gunting kuku, sama body mist. Jadi, kalau lagi kena macet, saya akan oles-oles lotion yang wangi.. yah hitung-hitung ini adalah aroma terapi pengurang stres karena macet di jalan. Kadang-kadang saya juga gunting kuku kalau pas kukunya panjang.
Di hari ketiga Ramadhan, saya masih konsisten untuk mengalami kemacetan saat berangkat kerja dan pulang kerja. Saya juga masih konsisten menyesali kenapa tidak naik commuterline saja. Tapi istimewanya, hari ketiga itu ternyata commuterline Bekasi juga mengalami gangguan karena kabel yang terbakar dan tawuran antar warga di Klender. Saya batal menyesal tidak naik commuterline..
Sebenarnya apa sih yang menjadi sponsor kemacetan tol cikampek?
Berdasarkan pengalaman tiga tahun yang hampir setiap harinya menyusuri tol cikampek, saya akan menyebutkan sponsor kemacetan tol ini.
Pertama, seperti yang sudah diuraikan di atas, tol cikampek adalah urat nadi transportasi yang menghubungkan bagian barat Pulau Jawa ke bagian timurnya. Ada alternatif lain seperti kereta api atau jalur selatan, tetapi jalur ini tetap memiliki kenyamanan paling tinggi. Akibatnya, volume kendaraan meningkat dan terjadilah kemacetan. Saya menyebut ini sebagai teori kemacetan klasik, karena kemacetan bersumber dari meningkatnya volume kendaraan.
Kedua, tol cikampek yang juga tol favorit para truk dan trailer, membuat tol ini jadi semakin macet. Truk dan trailer itu, selain menghabiskan luas jalan dengan bodynya yang besar, kecepatannya juga seringkali tidak layak untuk berjalan di tol. Suka lihat kan rambu lalu lintas yang menunjukkan batas minimal dan maksimal kecepatan di jalan tol? Nah, truk ini, bisa melaju dengan kecepetan 40 km per jam saja sudah harus dikasih medali. Terus terang saya sendiri kalau berada di tol, sangat ilfil sama yang namanya truk. Mereka itu sangat akrab satu sama lain. Saking akrabnya, kalau jalan, mereka akan mengambil semua jalur, dari jalur satu sampai jalur empat. Bayangkan, dengan kecepatan yang lambat, jalur yang terpakai semuanya, terus kami-kami ini yang sudah susah payah menabung untuk membeli mobil dengan kecepatan standar, tidak bisa menyalip truk-truk itu karena mereka memblok jalan. Memang ada peraturan bahwa truk dan trailer dan juga bus, jalan di lajur kiri karena kecepatan mereka yang lambat. Tapi masalahnya, mereka tidak merasa kecepatan mereka lambat. Hasilnya, kita macet-macetan dong..
Ketiga, tol cikampek punya banyak exit. Saya tidak tahu bagaimana aturan baku untuk membangun jalan tol. Yang jelas, tol Cikampek punya exit yang banyak, karena setiap hampir 5 km ada exit. Apalagi kalau ada perumahan baru yang lokasinya dekat jalan tol, biasanya tinggal tunggu waktu saja akan ada exit di lokasi dekat situ. Exit ini juga memberikan kontribusi dalam urusan macet. Kalau volume yang exit dan entry di tol banyak, bisa dipastikan pengguna tol yang sudah berada di tol akan terganggu lajunya. Dan ini akan berujung pada macet. Selain exit, kebijakan menghubungkan tol cikampek dengan JORR hingga ke Tangerang juga memberikan kontribusi kemacetan. Sejak dibukanya tol ke arah Tangerang, semua truk yang hendak ke Tangerang mengantri di km 10 tol cikampek. Kalau mengantrinya di lajur kiri sih tidak masalah. Ini mereka mengambil semua jalur untuk belok di km 10. Pokoknya bisa bikin emosi jiwa deh.
Tapi, apapun itu, yang namanya kemacetan di tol cikampek sudah menjadi dinamika hidup saya. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya saya akan menjadi bagian dari para komuter yang menyesaki Jakarta, Saya sering memikirkan bagaimana caranya supaya tol cikampek ini tidak macet. Mungkin kalau tol JORR yang di utara sudah jadi, truk-truk itu akan langsung dari Karawang dan Cikarang melalui tol JORR yang di utara. Mungkin kalau double reel yang dicanangkan bisa digunakan Agustus ini benar sudah jadi, commuterline Bekasi akan lebih on time dan tidak penuh sesak karena perjalanannya tidak terganggu dengan kereta jarak jauh. Mungkin kalau MRT beneran jadi dibangun, dan revitalisasi jalan kalimalang selesai, kemacetan ini bisa terurai. Dan banyak kemungkinan lagi..
Spesialnya jadi seorang komuter di bulan Ramadhan ini adalah ketika pulang kantor. Sekarang saya tidak terlalu gelisah dan resah kalau terlambat pulang kantor menjelang buka puasa. Mengingat anak-anak sudah semakin tinggi menjulang dan memiliki daya survival yang tinggi, saya tinggal memberi perintah saja untuk menyiapkan buka puasa dengan beli makanan jadi. Alhamdulillah, tidak ada yang tidak bisa disyukuri selama kita bisa melihat sisi positif dari suatu kejadian.
Anyway, selamat berpuasa, jangan lupa tarawihnya, amal sholehnya, tadarusnya. Semoga puasa di Ramadhan kali ini membuat kita stronger than yesterday..
Monday, May 11, 2015
a due date
Yang namanya due date, buat semua pegawai di lini manapun pasti akan menghadapinya, yang membedakan adalah tingkat stres-nya. Ada due date yang kalau dipikirin sampai bikin orang sakit karena selalu pusing memikirkan pekerjaannya, khawatir dengan proses dan hasilnya nanti. Ada juga yang dibawa santai, tapi istiqomah, tetap dikerjakan sesuai prosedur, lalu pasrah.. Ada juga sih yang cuek, pura-pura ga punya peran dalam kegiatan, go with the flow versi dia. Di dunia ini, sebenarnya memang cuma ada tiga itu aja tipe pegawai dalam menghadapi due date.
Dan masih dalam kerangka jujur-jujuran tadi, saya termasuk yang kedua. Ok, ini sebenarnya tidak perlu dijelaskan, karena dijelaskan juga tidak ada manfaatnya. Tapi kondisi menghadapi 'due date' itu kembali menghantui saya. Sempat ilfil karena sudah dua tahun tidak merasakan deg-degannya dengan due date ini. Sempat ketawa ketiwi dalam hati kalau mengingat apa yang sudah saya lakukan kalau berhadapan yang namanya due date ini. Dulu saya sering menganiaya badan saya dengan mengambil jatah tidur yang minimal 4 jam sehari menjadi sekitar 3-2 jam sehari. Tapi sekarang saya tidak bisa bersikap seperti itu terhadap badan saya, alasannya sudah jelas, badan saya saat ini tidak dalam kondisi seperti beberapa tahun lalu itu. Dulu kalau tidur cuma 3 jam sehari, di kantor masih bisa aktif, lalu pulang balas dendam tidur, bisa langsung kembali segar. Tapi metabolisme tubuh sekarang ini sudah mengalami perubahan, jadi tidak bisa lagi seperti itu. Justru saat ini, saya tidak boleh tidur kurang dari 4 jam. Kalau kurang, bisa kayak zombie kalau ke kantor. Yang hadir cuma badannya saja, tapi konsentrasinya entah kemana. Dan kalau dalam kondisi seperti ini, nyetir pun ga boleh, harus naik angkutan umum. Apalagi sekarang semua pekerjaan domestik (baca: rumah tangga) harus ditangani sendiri, karena saya tidak pakai asisten rumah tangga. Jadi sebenarnya ini cuma trade off antara pekerjaan kantor dengan pekerjaan domestik :)
Lalu, due date apa yang saya hadapi? Ah, ini sebenarnya cuma kasus biasa, tapi mungkin karena sudah lama tidak menghadapinya jadi kesannya 'wow' aja. Dan untuk tune in nya itu rasanya beraaaaaaat banget.. oh dear..
Itu juga yang akhirnya membuat saya akhirnya menulis di sini, kali aja dengan melepaskan itu semua dalam tulisan ini bisa memuluskan jalan saya untuk tune in. Ayo kasih semangat dong.. If the sky is the limit, it's time to fly! Fighting!!!
Tuesday, March 24, 2015
Ujian
Ok, ini postingan kedua di tahun ini, setelah sebelumnya saya mengunci blog ini karena tadinya saya merasa ini harus dikunci. Tapi mengingat saya bukanlah seleb blog dan bukan seleb lecture juga, jadi saya pikir ya sudahlah, mari dibuka lagi saja.
Sebenarnya, waktu untuk membuat postingan itu banyak terjadi di tempat-tempat umum ketika sedang menunggu. Menunggu apa saja, menunggu angkutan umum seperti commuter line, pesawat, di dalam bus antar kota atau mobil travel. Menunggu jam mengajar, menunggu teman di lobi atau menunggu kepastian hehe.. Setidaknya itulah yang terjadi pada saya, beberapa postingan saya buat ketika sedang menunggu transportasi moda. Saat ini pun, postingan ini dibuat ketika menunggu anak-anak ujian..
Dulu pernah ada masa dimana saya sangat excited dengan ujian. Rasa deg-degan nya itu memang memicu adrenalin, tapi kalo hasilnya memuaskan, memunculkan serotonin :). Saya pikir semua orang pasti pernah menghadapi ujian. Dan rasa deg-degan setiap ujian pasti berbeda. Ada ujian yang suka dianggap biasa saja, semacam uts atau uas. Ada juga ujian yang sampai dibawa stres, dipikirin terus padahal sudah berlalu. Yang paling wow itu biasanya ujian saat masuk PTN, ujian bikin sim termasuk yang wow juga ga ya? Entahlah..
Ujian, pasti ada dalam setiap kehidupan manusia. Bentuknya macam-macam, menghadapinya pun berbeda-beda penanganannya. Tetapi dari semua ujian yang pernah saya lalui, kuncinya cuma satu, persiapan dan bersikap tenang. Kalau sudah melakukan persiapan, dan bisa bersikap tenang, insya Allah ujian bisa dilalui dengan baik.
Kalau sudah selesai ujian, tinggal berserah diri dan tetap berharap yang terbaik.
Selamat ujian..
Wednesday, January 14, 2015
2015 Blog Breaking
Judul postingan ini diinspirasi dari spanduk pembangunan apartemen deket rumah yang bertuliskan ground breaking. Itu artinya pembangunan apartemen tersebut baru saja dimulai. Begitu juga dengan postingan kali ini, tang menandakan postingan pertama di tahun 2015.
Sejujurnya, postingan ini saya buat sambil menunggu commuter line yang sudah tiga hari ini jadwalnya kacau balau sehingga kenyamanan penumpang terganggu. Dan entah kenapa, justru di saat jadwal CL terganggu saya malah terpaksa menggunakan angkutan ini.. pyuuh..
Akibatnya, banyak teman-teman yang bertanya kenapa saya tidak bawa mobil, kenapa jadi sering naik CL, apakah sudah terjadi penurunan kesejahteraan, apakah lalu lintas sangat macet jadi naik CL, apakah bekasi sebegitu parahnya sampai tidak nyaman untuk naik mobil dan seterusnya.. Dan saya pun menjawab secara random pertanyaan-pertanyaan itu dengan sempurna..
Ada dua hal saya terpaksa harus naik CL. Pertama adalah sesi 1. Kalau saya mengajar sesi 1 yang dimulai jam 7.30, peluang saya untuk datang terlambat kalau naik mobil cukup besar, sekitar 20-25 persen. Soalnya dalam 20 hari kerja selama sebulan, rata-rata saya telat itu 3-4 kali. Kalau datangnya sudah telat, biasanya perlu mood booster karena kesal datang terlambat. Hal kedua adalah non academic factor. Itu bisa macam-macam selain sesi 1. Misalnya saja waktu itu gembok mobil saya tidak bisa terbuka, bangun kesiangan, ada telpon penting... loh.. iya kadang telpon bisa lama..
Buat seorang komuter seperti saya, naik CL itu bisa membantu dari sisi waktu, tapi tidak dari sisi kenyamanan. Selain itu ada aja cerita hasil curi dengar pembicaran penumpang yang lagi ngobrol. Iya, biasanya saya naik CL tanpa teman, jadi kalau di stasiun atau di dalam gerbong ya asik sendiri. Kind of a loner type hehe..
Contohnya hari ini, saya jadi tau ternyata sinetron yang lagi happening itu zoda. Nah, saya yg jarang nonton tv jadi penasaran. Kata ibu-ibu penumpang CL, rajanya ganteng tapi sayang pendek hahaha.. trus saya juga jadi tau sate padang yg enak deket rumah saya waktu di dalam gerbong dan lg untel-untelan penumpangnya. Gerombolan penumpang CL itu asik ngomongin sate padang. Dari hasil curi dengar itu saya bisa tau kalau mereka tinggal deket area rumah saya.
Angkuta kereta api itu kalau di PDB yang berbasis SNA 1993 masuk ke dalam sektor angkutan, subsektor angkutan rel. Daya angkutnya yang besar untuk melintas antar kota dan tanpa macet plus biayanya yang murah, membuat komuter mengandalkan CL. Berdasarkan pengalaman saya naik CL, demand untuk subsektor ini sangat tinggi. Sayangnya tidak diiringi supply. Sebagai penganut general equilibrium garis keras, kalau supply tidak bisa nencukupi demand, ada kebijakan yang harus diambil. Ga mungkin kn kita impor jasa angkutan kereta, kecuali pmtbnya yang diimpor.
Di tengah carut marutnya sektor transportasi ini, ternyata saya bisa tertawa dalam hati. Menikmati sih ga juga, tapi daripada kesel lah.. jadi lihat sisi positifnya aja. Demikian juga untuk tahun ini, semoga saya jadi lebih positive thinking..
Monday, November 24, 2014
Bukan hari yang indah
Seperti yang terjadi hari Senin ini. Harusnya saat ini saya duduk manis di ruang workshop IMF mencermati paparan mereka mengenai financial account. Asal tau saja, saya sangat menanti-nanti workshop ini karena selain undangannya terbatas, saya masih penasaran dengan data financial account yang dirilis hasil kerjasama antara BI dan BPS. Selain itu, saya memang sedang menimba ilmu dari seorang teman di sana. Tetapi, alih-alih mendengarkan paparan IMF dan BI, saya malah tergolek di ruangan, tak berdaya, kelelahan, dengan otak yang stuck pada blog. Inginnya sih menumpahkan semua kekesalan pada tulisan ini, tapi kok sayang ya energinya..
Jadi, kira-kira apa hal lain yang bisa melengkapi hari yang tidak indah ini? Jawabannya adalah sosial media.
Social media sepertinya berkonspirasi dengan alam untuk membuat hari ini menjadi semakin tidak indah. Yang sedang happening saat ini adalah perang posting dan re-posting antara haters dan lovers. Saya hampir-hampir tidak mengenali lagi teman-teman saya di dunia maya (walaupun memang dari awal saya tidak terlalu mengenal mereka, tapi ini yang dulunya kenal jadi merasa aneh membaca postingannya). Biasanya mereka sharing yang ringan dan positif, malah kadang-kadang bisa membuat hari saya jadi lebih berwarna. Tapi saat ini, baik itu facebook maupun twitter sangat parah. Dan tidak, saya tidak men-stalking akun-akun itu. Kecakepan..hehehe
Hari ini saya datang terlambat satu jam dari jadwal kerja yang ditetapkan. Bukan karena saya bangun kesiangan. Saya tetap bangun jam 3 pagi dan berangkat tetap jam 5.30. Tapi semesta memang mendukung untuk membuat hari ini menjadi tidak indah. Belum lagi masuk tol, saya sudah terjebak kemacetan yang luar biasa saat mengantar anak saya sekolah jam 6 pagi tadi (biasanya jam 6.15 saya sudah sampai di sekolah anak saya). Baru bisa terbebas dari kemacetan jam 7.30. Akhirnya saya memutuskan untuk naik commuter line karena saya baca di timeline, tol dalam kota macet parah. Ini hikmahnya jadi komuter, jadi mahir membuat keputusan berdasarkan informasi dari sosial media.
Hari ini memang bukan hari yang indah. Tapi hidup memang tidak selalu indah. Mungkin ini adalah salah satunya. Semoga ada banyak pelajaran yang bisa saya ambil dari hari yang tidak indah ini. Dan semoga juga, saya bisa membalik kembali inversia ini menjadi hari yang indah.
Friday, October 17, 2014
Introduction to CGE.. again
Penjelasan pareto dalam tulisan ini adalah kondisi sederhana dan fokus pada kasus satu konsumen, dua faktor produksi dan dua komoditas
Keseimbangan Produksi
Dalam teori produksi dijelakan produsen berada dalam keseimbangan bila MRTSu = w1/w2 dimana w1 adalah harga faktor L (tenaga kerja) dan w2 adalah harga faktor K (modal). Jika ada dua perusahaan yang menghasilkan barang/komoditas yang sama (kita sebut saja x1 dan dan x2), keseimbangannya bisa dijelaskan melalui Edgeworth Box (ini ada di microeconomics-nya Nicholson).
Keseimbangan Konsumen
Pareto optimum pada konsumen, didekati dengan konsep Marginal Rate of Substitution (MRS). MRS menunjukkan kesediaan seorang konsumen untuk menukarkan satu unit terakhir dari suatu barang untuk mendapatkan beberapa unit barang lainnya. MRS sama dengan harga relatif kedua barang yang akan dikonsumsinya untuk mencapai kepuasan yang optimal.
Keseimbangan Sektor Produksi dan Konsumsi
Keseimbangan produksi dan konsumsi tercapai pada saat MRTPTu = MRS = P1/P2.
MRPT adalah tingkat transformasi suatu produk terhadap produk lain. MRS menunjukkan sejauh mana konsumen mau menukarkan suatu komoditias dengan komoditas lainnya. Keseimbangan terjadi jika transformasi produksi sesuai dengan tingkat substitusi konsumsi (Nicholson, 1994)
Asumsi
Ok, semua model pasti memiliki asumsi. Nah, selain memenuhi asumsi pasar persaingan sempurna dan efisiensi pareto, terdapat beberapa asumsi lain dari model CGE (Gilig dan Carl, 2002), yaitu :
1. Pada pasar komoditas dan pasar input, total permintaan = total penawaran
2. Pada tingkat harga keseimbangan keuntungan perusahaan = nol
3. Pendapatan rumah tangga = Pengeluaran rumah tangga
4. Penerimaan pemerintah = pengeluaran pemerintah
Dari asumsi tersebut bisa dilihat kalau model CGE adalah model ekonomi yang melihat ekonomi sebagai suatu sistem yang komplit. Model CGE dibuat pada level makro (agregat) tapi dengan memasukkan level mikro lebih rinci dengan adanya keterkaitan antara aktor ekonomi. Seluruh pasar secara jelas telah mencapai keseimbangan dan memiliki struktur tertentu yang didasari pada formula keseimbangan. Pasar mencapai keseimbangan jika memenuhi syarat : non negatif, homogen dan memiliki harga yang unik, tidak terjadi excess demand, dan efisiensi pada harga pasar.
Model CGE memiliki dua karakteristik, dioperasikan dengan harga relatif dan memenuhi hukum Walras dan numeraire (harga seluruh barang merupakan harga relatif terhadap suatu harga). Jadi tidak bisa dengan harga absolut. Model CGE terdiri dari banyak persamaan, yang solusinya menggambarkan keseimbangan umum. Persamaan-persamaan ini menggambarkan perilaku mikroekonomi yang umumnya merupakan persamaan nonlinier. Model CGE umumnya menggunakan closure makroekonomi. Suatu closure merefleksikan ketepatan asumsi dalam model. Closure menyediakan pilihan variabel-variabel yang menjadi variabel eksogen dan variabel endogen. Juga digunakan untuk menentukan simulasi berkenaan dengan skala waktu jangka panjang dan jangka pendek dengan mensubstitusi variabel eksogen dengan variabel endogen.
Jumlah variabel dalam model biasanya elbih besar dari persamaannya, sehingga harus ada variabel-variebel endogen dan eksogen. Variabel ensogen adalah variabel yang nilainya ditentukan dalam model. Variabel eksogen adalah variabel yang nilainya ditentukan di luar model.
Mudah-mudahan ini bisa jadi pengantar untuk memahami CGE. Mengenai teknis penghitungannya.. mungkin nanti kalau ada kesempatan saya coba tulis disini. Tapi ga janji..
Sunday, September 28, 2014
Introduction to CGE
Dari beberapa sidang skripsi mahasiswa, semua menggunakan model ekonomi yang sama, yaitu model ekonometrika. Entah itu dengan data panel, time series atau dengan cross section yang pakai RLB. Saya kurang mengerti, apakah memang harus menggunakan model ekonometrika untuk dapat menjawab tujuan yang kebanyakan adalah menganalisis dampak variabel-variabel ekonomi. Karena ada model lain yang juga menggunakan statistik yang bisa menjelaskan fenomena ekonomi secara lebih komprehensif. Contohnya saja yang sudah diajarkan adalah model IO, model SNSE dan yang saat ini sedang happening adalah model CGE (Computable General Equilibrium).
CGE merupakan model struktural. Artinya, model ini dibangun dengan dasar-dasar teori mikroekonomi dan makroekonomi dimana perilaku agen-agen ekonomi dijelaskan secara spesfik dan detail dalam bentuk persamaan (behavioral equation). Oleh karena itu, model CGE dapat menjelaskan interaksi antara agen-agen yang berbeda pada suatu wilayah (bisa berupa negara atau daerah).
Sebenarnya, ada beberapa model ekonomi yang bisa digunakan untuk melihat dan menganalisis dampak perubahan variabel-variabel ekonomi, yang paling sering digunakan adalah model ekonometrika dan model CGE. Model lainnya adalah model keseimbangan parsial (partial equilibrium), yang salah satu aplikasinya adalah equilibrium displacement model, Input-output Model (Model IO) dan Social Accounting Matrix atau Sistem Neraca Sosial Ekonomi (SNSE).
Model ekonometrika didasarkan pada analisis regresi dengan jenis data yang digunakan bisa berupa data cross section, time series, dan panel yang merupakan gabungan antara data cross section dan time series. Sehingga diperlukan series data yang cukup untuk melakukan estimasi parameter dan ada asumsi-asumsi yang harus dipenuhi terkait dengan regresinya. Ketersediaan series data dan konsistensinya seringkali menjadi masalah bila ingin menggunakan model ekonometrik pada data negara sedang berkembang.
Sementara itu, model CGE hanya mengacu pada tahun tertentu (particular benchmark years). Model CGE juga dapat melakukan analisis dan dampak pada tingkat mikroekonomi dan makroekonomi. Hal ini berbeda dengan yang terjadi bila menggunakan model ekonometrik yang biasanya hanya dapat melakukan analisis di tingkat makroekonomi.
Konsep dasar CGE adalah Efisiensi Pareto atau Pareto Optimum pada setiap agen ekonomi (produsen, konsumen, investor dan pemerintah). Dalam teori mikroekonomi, efisiensi dalam perekonomian dikenal dengan efisiensi pareto yang menjelaskan kondisi dimana satu pihak tidak dapat menignkatkan kepuasannya tanpa mengurangi kepuasan pihak-pihak lainnya. Konsep efisiensi pareto mencakup tiga jenis efisiensi :
1. efisiensi alokasi sumber daya (keseimbangan produksi)
2. efisiensi kombinasi distribusi komoditas (keseimbangan konsumsi)
3. efisiensi kombinasi produk (keseimbangan sektor produksi dan konsumsi)
Sebelum menggunakan model CGE, harus dipastikan dulu si pembangun model memiliki ilmu matematika (terutama kalkulus lah ya untuk optimasi), mikroekonomi (untuk menjelaskan efisiensi pareto), makroekonomi (untuk analisis dampaknya), plus komputasi (karena ini bukan model ekonometrika yang biasa pake eviews, jadi akan sangat membantu bila si pembuat model memahami algoritma komputasi karena software yang digunakan biasanya open source yang mengandalkan penguasaan syntax-syntaxnya).
...to be continued
Tuesday, September 16, 2014
puisi tanpa judul
Entah siapa yang menulis ini di salah satu file berekstensi doc.
Entah apa puisi ini ditulis asli oleh salah satu anak saya atau hasil copas dari internet
Yang jelas, ketika saya membaca ini, dalam hati saya berkomentar "keren banget"
Nah, ini puisinya :
sebanyak limit.
setiada nol.
aku tahu, aku bukan tentang segalanya ketika ia memanggangku dengan sinar matanya hingga aku mengabu tak bersisa.
wahai, pemilik sebentang rasa penuh dusta dilema yang berani-beraninya menyelupkan diri dalam lautan pikiran, menyeruak di jeda senyap malam, dan mengabur ketika aku berusaha memecahkan persoalannya.
aku cuman sebutir rinai hujan,
ketidakinginan untuk pergi, kecewa, juga gelisahku pada awan selalu kubungkam.
Wednesday, August 27, 2014
Simple note from seminar
Yang menarik dari seminar tersebut adalah pembicara utama yang berasal dari ITS yaitu Prof. Nur Iriawan. Beliau adalah wakil rektor ITS. Pembicara utama lainnya adalah Prof. Sri Wahyuni, Kajur Matematika UGM. Dimana-mana, yang saya cermati kalau sudah prof prof gitu, biasanya sederhana dan bahasanya membumi serta jauh dari notasi-notasi rumit. Justru mereka menyederhanakan persoalan sehingga mudah dipahami.
Makalah Prof Nur Iriawan misalnya, beliau membahas statistika dalam konteks kehidupan. Banyak yang kurang menyadari bahwa bumi, langit dan isinya dalam alam semesta ini diciptakan Allah penuh dnegan keteraturan yang menyertainya, yang sebenarnya dihadiahkan untuk manusia sebagai khalifah untuk ditafakuri. Kejadian satu dengan lainnya dalam keteraturan tersebut dapat diamati, diukur dan dicatat sehingga menjadi data dan fakta sebagai proses perbaikan hidup manusia. Itulah sebabnya kita harus aware dengan keadaan di sekeliling kita. Bisa merekam jejak data yang ditinggalkan pada kejadian yang ada di sekitar kita. Yang ujung-ujungnya adalah bisa melakukan analisis terhadap rekaman data tersebut untuk kemaslahatan umat.
Klasik vs Bayesian
Dalam bidang statistik, ada dua mahzab yang saat ini hits bingits. Pertama adalah mahzab Klasik yang berusaha membawa data ke bentuk distribusi normal, supaya estimasi parameternya bisa menggunakan OLS dan seterusnya. Kedua adalah mahzab Bayesian... Profesor disini menyebut penganut mahzab ini homo bayesianis, hehehe. Bayesian sering juga disebut data driven, artinya data yang diperoleh dilihat dulu mengikuti distribusi apa kemudian dilakukan serangkaian analisis data yang sesuai dengan term and condition datanya, berbeda dengan klasik yang melakukan transformasi data agar data bisa dianalisis secara normal. Biasanya akan timbul pertanyaan mana yang lebih baik, klasik atau bayesian?
Ok, aliran klasik biasanya diajarkan pada mahasiswa undergraduate seperti D4 dan S1. Nah kalau sudah S2 dan S3 biasanya sudah merapat ke bayesian. Bayesian, selain harus fasih statistik matematika, juga harus fasih statistik komputasinya. Kenapa? Karena untuk estimasi parameternya memang tidak ada paket program untuk aliran bayesian. Jadi, paling tidak seorang bayesianis menguasai bahasa program semacam R atau Python. Saya belajar phyton dulu itu juga karena terkendala tidak ada paket software yang mengakomodir pengolahan tabel I-O. Jadi terjebaklah saya bersama Python ini. *eh curcol, padahal sekarang sudah banyak yang lupa karena jarang dipakai*
Klasik atau Bayesian masing-masing memiliki keunggulan dan kekurangan sendiri. Ini seperti menentukan apakah menggunakan lunar system atau solar system pada almanak atau kalender. Jadi, menurut saya tidak perlu diperdebatkan secara lebih tajam. Misalnya saja, data ekonomi tentu akan berbeda karakteristiknya dengan data sosial. Prosedur analisisnya tentu juga perlu tools yang sesuai.
Oh ya, kalau yang saya tangkap dari presentasi ITS, mereka beraliran sangat bayesian karena menganggap data itu adalah sunatullah. Belajar statistika dalam konteks kehdupan memberikan khazanah belajar statistika yang riil. Statistisi seharusnya berposisi sebagai pecinta dan pengawal keamanan catatan sunatullah, bukan pelawan takdir dengan memposisiskan sebagai pengubah dan pemanipulasi data. Semakin manusia sadar akan manfaat data, semakin banyak pelajaran kehidupannya dan disjamin semakin baik kehidupannya ke depan
Dari seminar ini, saya seperti dapat enlightment dan semacam kesadaran bahwa keberadaan manusia di muka bumi ini haruslah sangat berarti. Hubby bilang saya tidak salah untuk berada di sisi ini. Yeah, I can live with it..
Monday, August 18, 2014
A note from workshop
Saya jadi teringat waktu ada acara workshop penulisan artikel ilmiah untuk jurnal internasional tanggal 11 Agustus lalu. Yang jadi narasumbernya adalah Pak Gindo Tampubolon, seorang doktor dan juga researcher fellow dari The University of Manchester. Beliau tinggal di Inggris (Manchester tepatnya)dan pulang ke Indonesia setahun dua kali untuk memberikan workshop di universitas-universitas dengan alasan MALU. Iya, beliau malu karena Indonesia, negara yang punya banyak persoalan ini, ternyata jarang belajar dari masalah yang dihadapinya. Ini ditandai dengan sedikitnya orang Indonesia yang menulis untuk jurnal internasional. Bila dilakukan perbandingan dengan negara ASEAN yang formasi awal (ada lima negara: Singapura, Malaysia, Thailand, Philipina dan Indonesia), negara kita termasuk negara yang tertinggal jauh dalam hal rasio orang yang menulis untuk jurnal internasional. Singapura adalah negara denan jumlah penduduk yang paling banyak menulis untuk jurnal internasional. Rasionya 1 dibanding 600-an. Artinya, dari sektiar 600 orang Singapura, ada 1 orang yang menulis untuk jurnal internasional. Indonesia berada pada posisi paling akhir, dengan rasio 1 dibanding 107 ribu. Jadi dari 107.000 orang ada 1 yang menulis untuk jurnal internasional.
Bagaimana? miris ya. Padahal, Indonesia memiliki segudang masalah untuk diteliti. Sebagai gambaran, Indonesia sering masuk top ten untuk indikator kesejahteraan yang buruk seperti tingkat kematian ibu (yang melahirkan), wabah penyakit, kesehatan masyarakat dan lain-lain. Tidak hanya itu, negara kita ini juga menanggung masalah yang sifatnya alami atau bencana alam. Misalnya saja, Indonesia merupakan ring of fire, yang sudah pasti akan rawan dengan gempa bumi dan gunung meletus, juga banjir. Nah, dari semua masalah yang dialami Indoneia, harusnya kita mengevaluasi diri, mencari solusi dari semua permasalahan tersebut. Tetapi nyatanya, orang dari negara lainlah yang menulis tentang semua masalah yang kita alami. Dan hasil penelitiannya teraebut digunakan untuk "menjajah" kita dalam bentuk lain.
Ketika berbicara di auditorium, Pak Gindo menggunakan bahasa Inggris karena beliau terbiasa mengutarakan pemikirannya dalam bahasa tersebut. Ada dua hal yang menarik dan bermanfaat dari apa yang disampaikan Pak Gindo terkait dengan bagaiamana trik menulis untuk jurnal internasional. Pertama, how to make an introductory paragraph for international journal, kedua adalah how to make a discussion on your paper.
Introductory paragraph atau Pendahuluan adalah hal krusial dalam sebuah tulisan, terutama untuk jurnal internasional karena sang reviewer dan writer tidak saling mengetahui. Maka, komunikasi yang dibangun pertama kali adalah melalui introductory paragraph. Writer harus bisa menarik minat reviewer dari kalimat pembukanya, supaya dibaca lebih lanjut. Kalau tidak, tulisan kita akan segera tersingkir, karena banyak sekali tulisan yang masuk ke meja reviewer untuk dibaca. Jadi dia tidak akan mensia-siakan waktunya dengan membaca tulisah yang tidak menarik. Pertanyaan selanjutnya, bagaimana membuat pendahuluan yang menarik? Salah satu dosen menuliskannya apa yang disampaikan Pak Gindo pada milis dosen. And I would like to share this to you..
First, making an introductory paragraph for international journal is a hard work due to we have to read more books. Why? Because, Making a general statement in the first paragraph that can persuade, can attract should be supported by reading alot. We have to know our research's position in the world of research and science. One question from Ibu Ari was talking the fact that more than 150 papers/journals sholud be read in order to success in publishing her paper in the international journal.
Second, an introductory paragraph for international journal has its own standard. We should follow the tight rule that described by Pak Gindo in the first session. Three part of a good introductory paragraph for international journal namely (1) a general background, (2) a reserch gap, and (3) a research question have to become our consideration when writing. --> Pak Gindo mengibaratkan ini seperti bentuk corong yang lebar di awal tetapi mengerucut.
Third, like an introductory paragraph for international journal, discussion at the end of journal has its own standard as well. Discussions should have several main things such as our research compared by other researches, the clarity of what we have done related to the research goals, the limitation of the research. In this issue, a question from Pak Bagyo was an interesting issue as well. Many of us tended to make an introductory paragraph in a bombastic promise but lack in the implementation. So that's why, Pak Gindo suggested to mention in the paper our research limitations in the disscusions.
Last but not least, we have to communicate each other as Pak Gindo said "Science is a communication". Based on this statement, I really agree on what Pak Monang said at the opening of the workshop, if we intend to be said as an Expert, we have to write our research and publish it; not just teaching, eventhough the teaching activity is our bussiness as usual.
And...
direply-reply sama rekan lainnya.. ada profesor yang bilang kalau tidak ada batasan jumlah bacaan tertentu seperti angka 150 itu. Menurut saya itu memang relatif, karena untuk mengambil post doc memang kuncinya harus banyak membaca. Bukankah perintah pertama buat umat Islam dalam Al-Qur'an adalah iqro atau membaca.
Apa yang disampaikan Pak Gindo pada workshop tersebut cukup membakar bara yang tadinya lembab. Buktinya, tidak berapa lama muncullah undangan call paper dari universitas lain, terus beredarlah semacam panduan menulis untuk jurnal internasional dari ITB itu. Sebenarnya, ketika menuliskan ini saya sedang menyiapkan full paper saya untuk workshop minggu depan. Jadi, mumpung semangatnya masih semangat kemerdekaan, sebaiknya segera saya rampungkan paper tersebut.. wish me luck.
Friday, August 8, 2014
Statistician is the sexiest job in the world..
Oh ya, yang membawakan presentasi pada seminar itu adalah Pak Setia Pramana. Saya suka bingung ini namanya Setio Pramono atau Setia Pramana sih, soalnya orang-orang yang sudah lama kenal dengan beliau memanggil dengan nickname Tio, terus di akun slideshare-nya setio pramono. Jadi saya menduga ini darah Jawa yang jadi Sunda, atau Sunda yang jadi Jawa..hehehe ga penting di bahas ya... skip aja.. Saya sendiri tidak begitu mengenal beliau walaupun bekerja di tempat yang sama. Maaf..
Pada seminar tersebut, Pak Setia menjelaskan terlebih dahulu latar belakang data bioinformatika yang ternyata berasal dari informasi yang diberikan oleh gen manusia. Bioinformatika sendiri menurut wikipedia adalah "an interdisciplinary scientific field that develops methods and software tools for storing, retrieving, organizing and analyzing biological data." Beliau cerita bagaimana gen itu menjadi semacam kode yang memberikan informasi mengenai kondisi tubuh seseorang. Ini mirip di film-film sci-fi yang cerita tentang kloning, stemcell sampai ke spiderman segala.. Nah, dari informasi tersebut terkumpulah data mengenai gen seseorang yang digunakan untuk membuat suatu alat untuk menguji dan jenis pengobatan serta treatment yang tepat untuk pasien. Nah, untuk sampai ke "membuat alat dan obat' itu, tentunya ada proses rancangan percobaan (experimental design), signal summarization, normalization, data analysis, network sampai interpretasi biogologisnya seperti apa.
Cerita kemudian berlanjut pada stage dimana seorang statistisi berperan dalam suatu riset di bidang bioinformatika. Ternyata, ilmu statistik lanjutan seperti analisis regresi dan teman-temannya (analisis data kategorik, multivariate, time series dan lain-lain) tiba-tiba menjelma menjadi alat yang ampuh untuk mengambil keputusan dalam bidang ini lengkap dengan asumsi yang menyertainya. Kira-kira jadinya keren gitu..
Kemudian, Pak Setia yang lulusan post doctoral dari Belgia ini menjelaskan ke peserta seminar bagaimana seorang statistisi itu punya peran penting dalam suatu riset. Terutama kalau sudah mendapatkan data untuk dianalisis. Katanya seksi.. hehehe.. Menurutnya statistician is the sexiest job in the world karena perannya yang sangat penting dalam suatu riset.. Bagiamana menurutmu?
Tuesday, August 5, 2014
No Ponsel No Cry
Walaupun bangun telat, the show must go on. Jadi saya segera ke dapur, masak untuk sarapan dan bekal ke kantor, bikin kopi (untuk saya sendiri) dan beres-beres sambil menunggu adzan subuh. Pekerjaan domestik seperti ini sudah rutin saya kerjakan sejak saya tidak pakai asisten rumah tangga lebih dari satu tahun. Sebelumnya, ketika punya asisten rumah tangga, saya punya me-time yang berlimpah dan cenderung mubazir. Ngulet aja bisa 15 menit, leyeh-leyehnya bisa 30 menit.. ga produktif lah hehehe.
Dampak dari bangun yang telat itu adalah saya tidak bisa nonton tv. Karena biasanya saya masih sempat nonton tv sambil minum kopi :) Ok, saya pikir saya akan minum kopi saya di mobil nanti, jadi saya masukkan ke dalam tumbler. Karena harus bergegas ke kantor, saya segera mengemasi buku-buku yang semalam saya baca ke dalam tas sambil menyemangati hubby (menyemangati = teriak-teriak supaya cepat berangkat)karena waktu sudah 5.45. Saya berharap kondisi tol cikampek ramah dan baik dengan saya.
Kira-kira sebelum mencapai gerbang tol bekasi barat, saya baru sadar kalau saya tidak membawa ponsel. Biasanya saya memantau kondisi lalu lintas melalui ponsel dengan aplikasi waze, atau mantengin timelinenya lewatmana dan ntmc plus mendengarkan jakfm. Kenyataan hari ini saya tidak membawa ponsel tidak membuat saya terlalu gimanaa gitu. Lalu lintas tadi pagi lancar-lancar saya. Kehidupan sosial media saya juga aman-aman saja. Satu-satunya yang berat dengan tidak adanya ponsel adalah saya tidak leluasa menghubungi rumah karena harus pinjam telepon kantor :)
Thursday, July 31, 2014
Rasa bersalah yang tak kunjung hilang
Yang membuat saya kemudian memposting tulisan ini adalah jawaban salah satu mahasiswa saya yang membuat saya tidak berhenti merasa bersalah. Ceritanya, tadi pagi itu saya lagi memeriksa ujian satu dari empat kelas yang saya ajar. Semua berjalan lancar-lancar saja karena tidak ada yang mendapat nilai dibawah 50. Malah beberapa ada yang mendapat nilai di atas 90. Sebagai informasi, saya bukanlah pengajar yang senang melihat mahasiswa saya kelimpungan mengerjakan soal ujian. Jadi, kalau mereka mendapat nilai yang bagus itu bahagianya disini..*nunjuk dada* hehehe
Sampai kemudian, ketika dari 34 mahasiswa itu, tinggal 14 lagi, saya memeriksa jawaban seorang mahasiswa yang membuat hati saya terasa kecut. Dia tidak bisa menjawab satupun dari soal yang diberikan. Malah, di akhir lembar jawaban itu dia menulis seperti ini "maaf bu bukan maksud saya meremehkan mata kuliah ini, tapi semalam saya sudah belajar. Mungkin ini pelajaran bagi saya karena kurang memperhatikan ibu mengajar di kelas. Dan saya seharusnya belajar lebih giat lagi kedepannya untuk memperbaiki semuanya."
Duh, kalimat itu sanggup meruntuhkan semua rasa percaya diri saya selaku pengajar. Kalimat itu mampu merusak mood saya memeriksa hasil ujian. Bagiamana tidak, seketika itu juga saya seperti ditimpa rasa bersalah yang kalau dikuantifikasi bisa beribu-ribu ton jatuh tepat di atas kepala saya. Jleb..
Nak, tahukah kau betapa sedihnya kalau seorang pengajar itu tidak bisa mentransfer ilmu yang dipelajarinya kepada mahasiswanya. Tahukah kau kalau seorang pengajar itu mempersiapkan semuanya jauh-jauh hari sebelumnya. Dan tahukan kau kalau sekarang jamannya sosial media, sehingga bila kau merasa enggan dan segan untuk datang ke ruangan untuk bertanya dan meminta penjelasan, kau bisa memanfaatkan semua sarana komunikasi dan sosial media yang disediakan institusi supaya yang seperti ini tidak kejadian. Banyak teman-temanmu yang mungkin ketika di kelas enggan atau segan untuk bertanya, mereka bertanya melalu email, sms, pm, dm, wasap.
Hari ini, saya terus menerus mengajukan pertanyaan yang sama ke diri saya, apa yang salah sampai ada yang tidak bisa seperti ini. Saya tidak menemukan jawaban yang pas karena yang mendapat nilai di atas 90 itu banyak. Masya Allah..
Mau tau kenapa saya terus dilanda rasa bersalah? Hey, saya juga seorang ibu, saya tahu persis seperti apa harapan orangtua mahasiswa saya. Jujur, saya tidak ingin menjadi bagian dari tidak terwujudnya harapan orang tua kalian. Jadi, persiapkan diri kalian sebelum ujian sebaik mungkin. Bertanyalah kalau kurang jelas. Diperlukan usaha lebih dan mungkin sedikit ribet agar harapan orang tua kalian terwujud.
Monday, July 21, 2014
Ramadhan yang luar biasa
Berbeda dengan anak kedua saya, anak pertama saya lebih membuat saya stres lagi. Gara-garanya saya tidak menginginkan dia kuliah di PTS. Pilihannya adalah PTN, PTK atau Ronin alias mengulang lagi tahun depan. Putri sulung saya ini tidak mau mendaftar di STIS walaupun sudah dipaksa-paksa. Dia juga dengan sangat terpaksa mendaftar di STAN karena saya marah-marah sama dia hehehe.. Alhamdulillah dia lulus di STAN untuk ujian tahap pertama. Euforia pastinya.. tapi itu cuma bertahan satu minggu, karena ternyata dia juga lulus sbmptn dan diterima di matematika IPB. Alhamdulillah.. Dan seperti yang diduga, dia lebih memilih matematika IPB ketimbang STAN. Sebenarnya masih ada satu tes lagi yang dia ikuti, yaitu SIMAK UI. Dia ambil matematika dan fisika. Katanya kalau dia diterima di matematika UI, dia akan memilih UI ketimbang IPB. Saya cuma bisa stres..
Selain itu, di Bulan Ramadhan ini juga, ada yang namanya Piala Dunia untuk sepakbola. Jujur, saya bukan penggemar bola, tapi juga bukan anti mainstream kalo urusan Piala Dunia. Jadi, rasa penasaran saya cukup kuat untuk mengetahui siapa juara piala dunia tahun ini. Rasanya saya seperti mengulangi kebodohan saya lagi dan lagi dengan menjagokan Belanda yang hanya bisa juara 3 pada piala dunia kali ini. Dalam sejarah sepakbola dunia, Belanda tidak pernah menang, paling sering runner up. Bahkan saat ini, ketika performa mereka terlihat luar biasa. Nonton tim Belanda dengan hasil menang atau kalah buat saya selalu worth enough.. Mungkin suatu saat nanti Belanda akan mematahkan statistik dengan memenangi piala dunia. Mudah-mudahan saat itu terjadi saya tetap menjagokan Belanda hehehe..
Berikutnya adalah Pilpres. Ah ya, yang satu ini benar-benar membuat media sosial saya menjadi sampah visualisasi. Indonesia terbagi menjadi dua kubu dengan pendukung garis keras pula. Sosial media saya semacam facebook dan twitter pun jadi tempat para pendukung ini nyampah di linimasa. Untuk yang satu ini saya tidak pernah ikut-ikutan baik itu memasang status maupun berkomentar. Pernah saya pasang status di facebook ketika quick count sedang heboh, "how to lie with statistics" dan responnya begitulah... Tiba-tiba sosial media menjadi sangat sensitif. Saya membuat status seperti itu karena teringat akan buku kuno dengan judul how to lie with statistics. Buku itu menjelaskan bagaimana menyampaikan hasil statistik yang 'jelek' supaya kelihatan 'bagus' dan acceptable. Dan saya dengan keluguan anak balita mengasosiasikan judul tersebut dengan fenomena quick count. Awalnya, saya pikir status-status nyampah akan hilang atau setidaknya berkurang ketika selesai pencoblosan. Tapi ini politik yang permainannya terus berkembang, jadi tampaknya ekspektasi saya itu berlebihan. Kalau antara ekspektasi dengan kenyataan tidak sama, maka yang timbul adalah masalah. Maksud saya, di statistik itu varian adalah jumlah kuadrat dari selisih x dengan ekspektasi x, dibagi n-1. Jadi semakin besar perbedaan antara kenyataan dengan harapan, semakin besar variannya. Kalau variannya semakin besar, semakin tidak efisien estimatornya. Ini ga baik untuk masa depan bangsa.. hadeuh.. rempong.. Saat ini, saya lagi menunggu pengumuman siapa Presiden Indonesia ketujuh.
Pelajaran besar yang diambil dalam pilpres adalah budaya surat-menyurat yang mungkin sudah lama ditinggalkan. Banyak sekali surat terbuka yang berasal dari kedua kubu. Isinya macam-macam, ada yang mempertanyakan, ada yang menuduh, ada yang menghujat dan banyak lagi.
Kedua, muncul seleb sosmed yang baru.. ini jumlahnya buanyak bangets.. Para seleb sosmed ini bagaikan pejuang tangguh yang siap membela capresnya dengan status-status yang melebihi tulisan analisis mahasiswa saya ketika ujian. Luar biasa..
Ketiga, quote-quote dari para capres itu bener-bener deh.. beberapa terdengar asal dan beberapa lagi aneh. Saya tidak pernah suka politisi, jadi kalau ada kata-kata yang keluar dari politisi dan menjadi quote dimana-mana.. itu sesuatu.
Keempat, quick count. Gara-gara QC ini, tiba-tiba teman-teman sealumni saya yang memang darahnya sudah darah statistik (saya menggunakan istilah statistician by default) menjadi semakin tertantang. Ilmu yang selama ini kami pelajari tiba-tiba menjadi terlihat menarik di mata orang awam. Tidak sedikit yang bertanya soal ini ke saya, terutama teman-teman SMA saya. Ya tentu saja ini membuat saya merasa lebih keren karena belajar statistik hehehe..
Hal lain yang membuat Bulan Ramadhan kali ini terasa luar biasa adalah SK fungsional saya keluar..yeay! Finally.. Saya pikir saya harus buat semacam deklarasi kemenangan atas SK ini :) Doakan saja semoga saya bisa berbuat yang terbaik untuk orang lain, terutama untuk keluarga dan mahasiswa saya. Membuat pikiran mereka lebih open minded, membuat mereka lebih pintar dan membuat mereka menjadi pemimpin-pemimpin yang hebat. Oh, kenapa ini jadi seperti janji-janji capres ya?
Sebentar lagi bulan suci ini segera berakhir, dan saya sudah merindukannya sebelum ia benar-benar berakhir. All and all semoga tahun depan saya bisa bertemu lagi dengan Bulan Ramadhan.. Aamiin..
Thursday, July 3, 2014
Telepon itu..
Lagi struggling dengan kemacetan tiba-tiba ponsel saya berbunyi. Tadinya saya pikir mahasiswa, ternyata orang lain. Si penelepon mengaku berasal dari perusahaan ekspedisi yang akan melakukan pengiriman ke tempat saya. Kaget tentunya... Saya merasa tidak memesan barang apa pun. Dia serius menanyakan alamat jelas saya. Ketika saya tanya barang apa yang mau dikirim ke rumah saya, katanya mobil. Hampir saja saya tertawa karena mengira ini semacam penipuan. Tetapi orang itu terdengar sangat memerlukan petunjuk saya. Akhirnya saya tanya siapa yang memesan, katanya dari BPS Prop. Jawa Barat. Jujur, saya tidak tahan untuk tidak tertawa, jadi ya saya tertawa saja sambil mengatakan kepada si penelepon kalau itu salah sambung. Telepon pun ditutup setelah dia meminta maaf. Kemacetan yang tadinya membuat bete perjalanan jadi tidak terlalu bete karena insiden kecil tadi.
Hari ini, ketika sedang mengajar, saya melihat ponsel saya menyala tanda ada telepon masuk. Saya tidak mengenali nomornya, jadi saya abaikan. Selain itu juga saya dalam posisi sedang mengajar. Setelah selesai mengajar, di ruangan saya tiba-tiba nomor yang sama juga memanggil-manggil di ponsel saya, lalu saya angkat. Si penelepon menanyakan alamat BPS Kota Bekasi karena mau mengirim barang. Saya menanyakan barang apa yang akan dikirim (saya berpikir akan mengirim dokumen pencacahan), lalu dijawab si penelepon kalau dia mau mengirim mobil. Halah..
Kemudian saya memberi petunjuk kepada si penelepon arah ke BPS Kota Bekasi, mantan kantor saya.
Saya tidak habis pikir, sudah setahun lebih, kenapa nomor ponsel saya ada di vendor-vendor..
Saya cuma berharap semoga pengiriman mobil ke kantor BPS Kota Bekasi adalah teaser pengiriman mobil ke rumah saya... he he he
Thursday, April 3, 2014
Sebuah kunjungan
Jadi ceritanya, teman seangkatan saya itu lagi kuliah S3 di IPB dan sekarang memasuki tahun ke-3, seru lah ya denger cerita kuliahnya itu (asli bikin iri), secara dulu kita sama-sama dari Jakarta dan punya masa-masa sulit untuk beradaptasi dengan sistem perkuliahan kedinasan ini. Biasa lah bayangan kita dulu itu kuliah ga seperti begini. Apalagi saya sebelumnya sudah sempat kuliah sebulan di tempat lain. Beda.. jauh berbeda, tapi thanks God akhirnya kita bisa beradaptasi dan ga sempat jadi mutant (looh?..).
Itu kunjungan yang pertama, di sore hari, ada lagi teman yang datang dari kantor lama saya. Sebenarnya sih dia datang karena ada urusan administrasi dengan baak, tapi sekalian bertemu saya. Nah ini membuat saya jadi teringat masa-masa perjuangan bekerja di tingkat II yang perlu kesabaran tingkat dewa. Terus berceritalah dia tentang kondisi di kantornya, personelnya, bagaimana ketatnya jadwal survei yang seolah seperti air bah datang ga kenal waktu, kegiatan yang saling tumpang tindih... ya ya ya saya mengerti sekali yang kayak begini dan parahnya saya tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantu selain mendengarkan..
Jujur, kalau dikunjungi teman lama itu rasanya senang. Bisa cerita-cerita pengalaman masing-masing, memberi kabar baik (yang buruk ga perlu lah) dan bikin kita semangat lagi. Walaupun sebenarnya, dengan era sosial media saat ini, semua itu bisa dilakukan dengan kelincahan jari-jari di atas smartphone atau komputer, tapi kalau bertemu langsung rasanya beda aja. Energi positifnya dapet. Kalau terus-terusan dapat energi positif bisa sehat terus kan.. Mungkin memang benar kalau menyambung silaturahmi itu bisa memperpanjang usia. Jadi, siapa lagi teman yang akan mengunjungi saya? Atau saya akan berkunjung ke siapa nih..
Thursday, March 27, 2014
Moving out
Kemudian tibalah saat itu..
Pagi itu, ada email masuk yang meminta 7 orang calon fungsional dosen di BAAK pindah ke ruangan dosen di gedung 2. Hehehe akhirnya tidak lagi mengerjakan pekerjaan administrasi dan bisa fokus pada perkuliahan. Dalam hati sih yes yes yes, tapi tampang tetep dipasang sekalem mungkin.
So, we're officially moving out to Gd2 lt2 201-202 on Wednesday, March 26th 2014. Perlu diketahui, sebenarnya ruangan ini belum layak sekali untuk dosen. Pertama, it's not fully furnished a.k.a ga ada lemari, ga ada komputer, ga ada listrik.. cuma meja dan kursi aja, itu pun barang second hahaha... Kedua, yang namanya gedung 2 lantai 2 itu kotornya luar biasa.. pantry-nya, toilet-nya, lantai-nya haduh.. Untung aja kreativitas saya lagi ga bagus, kalo ga sudah buat syuting film horor.. karena kondisinya mendukung.
Anyway, apapun itu harus disyukuri.. bukankah kalau kita bersyukur maka akan ditambah...
Saya bersyukur akhirnya bisa fokus baca dan bimbing skripsi anak-anak cerdas ini, baca proposal PKL dan membimbing mereka membuat kuesioner dan buku pedomannya. Ok, ini pencitraannya sudah keterlaluan.. Yang jelas, you kids will never find me again in BAAK, I'm moving out..
Thursday, February 13, 2014
On the right track..
Setelah agak bosan, kemudian saya membuka file presentasi dan tugas mahasiswa-mahasiwa saya sambil mengingat-ingat kembali presentasi mereka di kelas. Apa yang saya bahas di kelas, dielaborasi lebih jauh lagi oleh mereka. Keliahatan sekali usahanya ketika saya meminta mereka untuk menyertakan beberapa data dan melakukan analisis secara sederhana. Waktu membacanya, rasa itu muncul. Rasanya apa ya? Bangga, ketawa, seneng, campur aduk. Jujur, mereka semua melebihi ekspektasi saya ketika saya memberikan tugas-tugas itu. Menurut saya mereka menyelesaikannya dengan sangat baik. Bahkan beberapa memberikan presentasi yang excellent. Momen-momen seperti itu priceless!
Sebenarnya, yang membanggakan itu adalah ketika saya melihat cara mereka mempresentasikan tugasnya. Out of the box! Cara berpikir mereka sekarang jauh lebih terbuka dan ga kaku seperti 6 bulan yang lalu ketika pertama kali saya bertatap muka dengan mereka. Perubahan-perubahan yang terjadi pada mahasiswa-mahasiswa saya terus saya rekam dalam benak saya. Ketika ada yang mengalami kemunduran, saya mencari tahu apa penyebabnya. Dan ketika mereka kembali membaik, rasanya senang. Setelah belasan tahun kerja, merasakan hal yang seperti ini tuh rasanya luar biasa. I feel on the right track.
Wednesday, February 12, 2014
A little thing called Supply and Use Table (SUT)
Sebenarnya tema SUT ini pernah saya bahas beberapa tahun yang lalu disini, jadi ini cuma perluasannya saja. Apa ya istilahnya? Menggali lebih dalam mungkin ya...
Oke, pengetahuan dasarnya dulu ya.. Yang namanya SUT itu terdiri dari dua tabel, yaitu tabel supply dan table use. Supply Table: menggambarkan penyediaan barang dan jasa dalam perekonomian. Barang dan jasa dicatat pada baris yang dikelompokkan sebagai komoditi. Pada sisi kolom menjelaskan produksi dari ‘industri’ berupa komoditi barang dan jasa. Use Table: menggambarkan pengeluaran konsumsi untuk ‘industri’ dan final demand terhadap komoditi barang dan jasa. Pada sisi baris mencakup komoditi-komoditi dan pada kolom menunjukkan pengeluaran ‘industri’ dan final demand. Pada use table terdapat pula susunan input primer. Bagi yang belum tau input primer itu apa, silakan baca lagi SNN dan IO-nya. Input primer itu terdiri dari balas jasa faktor produksi.
Gambar tabel SUT itu kira-kira seperti begini
SUT sebenarnya masuk ke dalam neraca lainnya. Jadi di dalam dunia per"neraca"an itu, sebenarnya ada 3 neraca besar, yaitu Neraca Barang dan Jasa (the goods and services account), Rangkaian Neraca (sequence accounts), Neraca lain dalam SNA (other accounts of the SNA). Nah, kalau kita biasa dengan PDB, itu sebenarnya adalah neraca berjalan (current account) yang masuk di dalam rangkaian neraca (sequence accounts) bersama-sama dengan neraca akumulasi dan neraca akhir tahun (balance sheet). SUT sendiri masuk di dalam other accounts of the SNA.
SUT mencatat bagaimana penyediaan barang dan jasa yang berasal dari produksi domestik dan impor serta bagaimana penyediaan dialokasi untuk memenuhi permintaan antara, permintaan akhir, dan ekspor. Tabel ini terkait dengan penyusunan neraca produksi dan neraca pendapatan untuk industri, di mana datanya diperoleh dari sensus atau survei industri.
Kegunaan SUT
Pertama, kegunaannya adalah untuk untuk menjabarkan tabel input-output. SUT menyediakan kerangka kerja akutansi dalam menyusun neraca nasional, di mana total penyediaan dan penggunaan harus diseimbangkan satu dengan yang lainnya secara sistematis. Tabel penyediaan dan penggunaan juga menyediakan informasi dasar yang rinci guna menyusun tabel input-ouput, yang dapat digunakan untuk tujuan analisis ekonomi dan proyeksi. Yang kedua, SUT juga digunakan sebagai alat kompilasi, karena mempunyai fasilitas kerangka kerja yang menyeluruh (data checking/reconciliation; gap filling). SUT mengidentifikasi ketidakkonsistenan sumber data dasar, menginformasikan perbedaan dalam penghitungan sebagai dasar untuk estimasi gap filling, cross-check dan rekonsiliasi untuk meningkatkan konsistensi dan kelengkapan estimasi, sebagai dasar benchmarking penyusunan neraca nasional
Keseimbangan SUT
Mengikuti prisip neraca, maka SUT harus seimbang. Maksudnya antara kedua tabel tersebut terdapat keseimbangan. Total input harus sama dengan total output (it's so 'neraca'!). Kira-kira gambar keseimbangannya itu seperti ini :
Oke, mudah-mudahan gambar di atas bisa memberikan framework 'neraca' nya itu ya.
Apa lagi ya? Oh iya, data yang dikumpulkan untuk dikompilasi dalam SUT itu harus diperhatikan lho. Karena prinsip neraca lainnya adalah segala sesuatunya itu diukur dalam ukuran currency atau uang, maka output dan input (yang masih dalam quantity), harus dikalikan dengan harganya. Nah, masalahnya, harga itu ada macam-macam.
Valuasi SUT
Setidaknya ada tiga harga yang harus kita tahu di neraca. Pertama harga dasar (basic price), harga ini tidak mencakup TTM (Trade and Transport Margin/ Margin perdagangan dan biaya angkutan) dan pajak dan subsisi neto atas produk (taxes and subsidies on product), Kedua, harga produsen yang tidak mencakup TTM, tapi termasuk pajak dan subsisi neto atas produk (taxes and subsidies on product) dan yang dapat dikurangi dari VAT (Value Added Tax / PPN inclusive of non-deductible). Ketiga, harga pembeli. Nah ini adalah harga mencakup TTM, pajak dan subsisi neto atas produk (taxes and subsidies on product) dan yang dapat dikurangi dari VAT (inclusive of non-deductible VAT)
Use table menggunakan harga pembeli, sedangkan supply table menggunakan harga dasar. Nah ini tantangannya.. memisahkan TTM itu tidak mudah lho.
Persamaan SUT
Masih mengikuti prinsip neraca, persamaan SUT pun demikian.
Total Output = Total Input
Dimana :
Total Output = Output + Impor
Total Input = Intermediate Consumption + Konsumsi akhir + PMTB + Perubahan inventory + Ekspor
Coba deh perhatikan, total input itu mirip apa? Yup! Itu adalah PDB menurut penggunaan. Artinya, SUT bisa digunakan untuk mengecek PDB Penggunaan yang sudah dibuat.
Sebenarnya, sepintas kalau dilihat SUT itu mirip dengan Tabel Input Output. Bedanya, kalau matriks di IO (kuadran 1) itu square, sedangkan di SUT tidak square. Kalau di SUT valuasi nilainya menggunakan dua harga, yaitu harga dasar (supply table) dan harga pembeli (use table), maka di IO transaksinya itu dinilai dari harga produsen dan harga pembeli. Yang paling khas adalah beda baris dan kolom. Bila di IO baris dan kolom menjelaskan hal yang sama (sektor), di SUT baris menjelaskan komoditi, kolom menjelaskan industri.
Ya, kira-kira begitulah a little thing called Supply and Use Table. Nanti kalau saya ada galian yang lebih dalam lagi, akan saya sampaikan he he he
Monday, January 20, 2014
A little thing about neparnas
Hari ini saya tidak masuk kantor. Bukan karena hari ini ga ada kuliah. Bukan juga karena hujan yang turun terus dari sejak saya bangun pagi ini, tetapi karena putri sulung saya lagi sakit karena selama seminggu terakhir selalu terkena hujan kalau berangkat atau pulang dari sekolah. Lha wong hujannya kalo ga pagi ya sore, jadi kena terus deh. Karena ga masuk, officially, I become Stay At Home Mom. Enak juga ternyata. Apalagi sebelumnya weekend, jadi ini seperti extended weekend hehehe. Tapi baru juga jam segini, saya mulai merasa bosan karena semua pekerjaan rumah sudah selesai. Ckckck tipikal working mom banget ya... padahal barusan saya bilang jadi stay at home mom, eh sudah rindu jadi working mom.
Jadi, akhirnya saya mulai menulisi blog ini, yang sudah sering saya PHP-in bahwa saya akan selalu konsisten menulis di blog apapun yang terjadi. Cih! Palsu banget ya.. Sebenarnya, sebelum menulis di blog ini, saya abis baca-baca materi untuk kuliah saya besok. Rencananya sih besok ngasih materi Neparnas, Neraca pariwisata nasional.
Yang menarik dari neparnas ini konsep supply-demand nya itu. Maksudnya begini, kegiatan pariwisata itu kan kegiatan yang kesannya santai, rileks, ga mikir macem-macem, menyenangkan diri dan seterusnya. Ternyata dibalik kegiatan yang terkesan ga ada apa-apanya itu tersimpan potensi ekonomi yang wuihh... besar dan punya dampak yang luar biasa terhadap penciptaan output di sektor lainnya. Nah, kalau mau dibawa ke teori ekonomiya, bisa diawali dari konsep supply-demand.
Apa sih yang jadi demand-nya pariwisata? Secara keseluruhan ada konsumsi wisatawan, investasi, dan promosi. Wisatawan yang datang ke Indonesia pasti akan melakukan konsumsi dong. Mereka kan perlu makan, tempat tinggal, beli oleh-oleh dan sebagainya. Nah, konsumsi itu bisa menjadi pemicu peningkatan output di sektor terkait, seperti hotel dan restoran.
Demand selanjutnya investasi yang bisa dilakukan oleh pemerintah maupun swasta. Begini, karena adanya wisatawan, dan mereka perlu akomodasi, terciptalah yang namanya investasi. Ini pula yang menjadi supply untuk pariwisata, yaitu penyediaan sarana dan prasaran pariwisata
Terus, pertanyaan berikutnya, kenapa sih harus repot-repot menyediakan data pariwisata? Ternyata pariwisata itu memberikan devisa buat negara yang lumayan wow. Buktinya pariwisata merupakan empat kontributor tertinggi kepada devisa. Jadi, ini penting dan harus diurus yang benar supaya bisa memajukan perekonomian kita.
Data yang bisa disajikan dalam neparnas itu meliputi dua hal; pertama, data tenaga kerja dari kegiatan dunia usaha yang terkait dengan kegiatan pariwisata, kedua data pengeluaran dunia usaha untuk pariwisata. Selain itu bisa dilihat dampak pariwisata terhadap perekonomian dengan memanfaatkan tabel Input Output.
Dari situ, bisa dibuat kebijakan-kebijakan yang bersesuaian supaya bisa meningkatkan perekonomian negara. Pyuuh.. bayangkan, untuk membuat satu kebijakan kecil saja, perlu data yang detail. Iya, itu harus dilakukan kalau negara kita mau maju..

