Pages

Sunday, September 22, 2013

Days to be blessed

Lima bulan di tempat kerja yang baru, dengan bidang keahlian yang berbeda, bertemu dengan orang-orang yang baru dan sistem yang berbeda, membuat semua ini harus disyukuri. Bagaimana tidak, ini pengalaman yang sulit dinilai dengan uang, priceless.. Awalnya memang agak berat karena ini jauh berbeda dari sebelumnya, sekarang semua lebih mudah.

Apa saja yang sudah saya lakukan lina bulan terakhir ini akan saya bagi disini Perlu diingat saya suka sharing pengalaman, jadi jangan anggap ini sarana show off hehe..

Pertama, edit modul matrikulasi. Sebenarnya ini bukan hal baru dan hampir sama sekali tidak menantang, tapi saya berusaha seantusias mungkin mengerjakannya karena saya bekerja dengan teman-teman baru dengan latar belakang pendidikan dan budaya yang berbeda. It went well after all. Begitulah..

Kedua, ikut berbagai macam seminar. Mulai dari yang gratisan sampai yang... gratisan juga. Biasanya yang gratisan itu dari universitas. Nah disini saya dapat wawasan dan ilmu yang lebih banyak, bertemu dengan orang pintar lebih banyak lagi. Saya sampai heran bertemu doktor dari UI yang dari tampilannya biasa saja, terkesan santai dan muda tapi ketika mereview jurnal teman saya membuat saya terkesan dengan kemampuannya menyederhanakan dan mengkomunikasikan jurnal sehingga lebih mudah dimengerti. Ternyata beliau memperoleh gelar doktornya karena meneliti tabel input output. So, there's connection here. I won't tell his name here since he's quite famous in his campus *ehm

Ketiga, toefl. Ya, kami yang bekerja disini menjalani tes toefl kemudian diberi kursus dari Lembaga Bahasa UI untuk mengupgrade nilai toefl kami. Tes pertama, toefl saya 560, padahal saya ditargetkan untuk mencapai 600. Still a long way to go. So, tutor saya bernama Paul dan Chisna yang keturunan India itu. Paul konsentrasi di structure, Chandra di listening dan reading.  O ya, Paul sangat mengagumi sistem yang diterapkan kampus kami. Dia sangat iri dengan betapa tertibnya perkuliahan dan kegiatan disini dengan monitor yang ada dimana-mana sehingga setiap orang bisa mendapat informasi yang tepat. Bulan depan kami akan menjalani tpa. Kenyataan bahwa semua tes tersebut harus dijalani adalah demi sertifikasi dosen yang syaratnya nilai toefl dan tpa pada passing grade tertentu. Somehow, I enjoy it very much.

Keempat, mengajar. Ya, itu tugas utama saya. Tapi saya harus mengajar matrikulasi untuk debut saya ini. Hehe matrikulasinya semacam pelajaran SMA untuk matematika. Rasanya seperti mengajar anak sendiri. Yang diajar itu berasal dari Papua, Maluku, Aceh, Kalimantan. Mereka adalah mahasiswa yang diterima melalui jalur penerimaan pmdk. Tujuannya supaya mereka memiliki kemampuan yang setara dengan mahasiswa reguler. Kebanyakan ini adalah kali pertama mereka jauh dari orang tuanya. Dan mereka curhat.. oh dear..

Kelima, workshop. Saya sempat mencicipi workshop selama 5 hari dengan Australia Berau Statistics. Kami berdiskusi tentang penghitungan National Account antara dua negara, Australia dan Indonesia. Delegasi dari ABS yang menangani national account adalah Andrew dan seorang perempuan cantik yang namanya saya lupa. Dari workshop itu saya jadi mengetahui bahwa apa yang sudah dilakukan direktorat neraca sebenarnya tidak terlalu jauh berbeda dengan yang sudah dilakukan Australia. Saya jadi lebih menghargai kerja teman-teman neraca baik di pusat maupun daerah. Jadi berhentilah membully teman-teman yang sudah berusaha keras menyempurnakan penghitungan PDB. They've worked so hard..

Keenam, jadi moderator. Ada 5 skripsi yang harus saya moderatori ketkka sedang diseminarkan untuk syarat kelulusan mahasiswa tingkat akhir. Saya cukup terkesan dengan kemampuan mahasiswa disini yang menurut saya jauh di atas rata-rata.

Ketujuh, membuat modul SNNI atau Sistem Neraca Nasional Indonesia. Ini bukan pekerjaan sepele karena modul ini belum ada dan baru tahun ini dibuat. Untuk ini saya bekerja dengan tim yang terdiri dari 4 orang yang pernah jadi kasi neraca. Gara-gara ini juga saya harus pulang hingga larut malam karena rapat dengan narasumber yang dulunya dedengkot neraca di BPS RI. Kami harus menyesuaikan dengan jadwal beliau. Bekerja membuat buku dalam satu tim bukan hal mudah karena setiap orang punya ide yang berbeda. Saya harus ekstra sabar dan sedikit menahan diri untuk tidak terburu-buru membicarakan keinginan saya. Banyak yang saya pelajari disini terutama dari sisi mengelola emosi hehe.. kind of learning to be more mature..

Selain itu semua, ada beragam pekerjaan administratif yang tidak perlu saya share disini karena sifatnya biasa saja. Jadi begitulah hal-hal baru disini. Semangat mudanya sungguh luar biasa.. Alhamdulillah..

Friday, August 2, 2013

You know my name, not my story

Ketika saya memutuskan untuk mengganti pola karir saya di instansi pemerintah ini, beberapa teman mempertanyakan keputusan saya. Ada yang mendukung, ada yang tidak mengerti, kebanyakan sih cuek aja. Hehehe memangnya saya siapa sampai segitunya dipikirin. Saya menganggapnya sebagai dinamika kantor. Keputusan saya untuk merubah pola karir sebenarnya tidak lepas dari keluarga, terutama anak-anak saya. Saya pernah iseng tanya ke anak sulung saya apakah dia bangga kalau mamanya jadinya mentri. Jawabnya tidak. Katanya dia ga bangga kalau mamanya jadi mentri atau pemegang jabatan lainnya karena dia akan selalu khawatir akan mamanya. Saya agak bingung kenapa dia harus khawatir? Alasan dia khawatir kalau mamanya jadi pejabat adalah takut mamanya dijebak dalam suatu konspirasi politik. Anak sulung saya itu memang kerap menggunakan kata-kata yang tidak biasa bila mengungkapkan pikirannya. Menurutnya, ada banyak cara dengan apa yang saya bisa untuk membuatnya bangga.

Menjadi kebanggaan anak-anak itu bukan perkara yang mudah. Setidaknya butuh tiga elemen penting yang harus bersinergi. Elemen pertama adalah ilmu yang bermanfaat. Dengan mempelajari ilmu yang bermanfaat baik itu ilmu agama maupun duniawi, Insya Allah akan membuat anak-anak bangga dengan orang tuanya. Pengalaman ini saya alami sendiri ketika saya masih kecil dan duduk di bangku sekolah dasar. Ceritanya saya punya seorang sahabat yang orangtuanya berpendidikan tinggi (setidaknya dibandingkan dengan pendidikan orang tua saya), ibunya merupakan pejabat di Pemkot Jakarta Pusat. Ayahnya juga bekerja di tempat yang sama. Sahabat saya itu selalu menceritakan kedua orang tuanya dengan penuh rasa bangga. Saya pun tidak mau ketinggalan. Saya juga bangga dengan kedua orangtua saya yang menurut saya walaupun mereka tidak berpendidikan tinggi tapi memiliki skill dan ilmu yang luar biasa. Ibu saya itu pintar menjahit. Hingga saat ini pun saya masih suka dibuatkan baju oleh ibu. Saya juga bisa menjahit karena diajar oleh ibu saya. Selain menjahit, ibu saya juga pandai berdagang. Beliau memiliki kios di pasar tradisional yang digunakan untuk menjual kain. Hebatnya, ibu saya SD pun tak tamat. Sementara bapak saya juga tidak kalah hebat. Buat saya, bapak adalah pakar matematika yang jauh lebih pintar daripada guru-guru saya. Bapak, cuma sampai STM. Tapi, kalau soal ngerjain tugas matematika, saya larinya ke bapak. Bapak juga pandai mengaji, suka menghafal Al Quran. Yang membuat bapak menjadi hebat adalah kemauannya untuk selalu belajar. Saya selalu berharap itu adalah sifat genetik dan diturunkan ke saya hehe.. Asal tahu saja, waktu saya kecil, bapak sering belajar dari textbook civil engineering, yang belakangan ini saya tau merupakan textbook mahasiswa teknik sipil. Sampai sekarang di usianya yang jelang 70 tahun, beliau masih sering browsing di internet. Yang sedang dipelajarinya saat ini adalah obat-obatan herbal karena beliau memang sering sakit.

Elemen kedua adalah lingkungan yang mendukung. Ini saya pelajari dari kedua orangtua saya. Ya, sebegitu bangganya saya dengan mereka, sampai saya berusaha mencari tahu apa rahasianya. Bapak ibu saya selalu berpesan kepada saya agar saya selalu berada di lingkungan yang baik, di rumah maupun di kantor. Berteman dengan orang-orang yang baik agar ikut menjadi baik dan memilih komunitas yang memiliki energi positif supaya tetap bersemangat menjalani hidup. Menjadi orang baik itu harus diusahakan, anak akan bangga dengan orang tuanya bila lingkungannya baik.  Itu juga yang menjadi alasan saya untuk mengubah jalur karir saya. Bukan berarti di tempat lama saya kerja merupakan lingkungan yang buruk. Saya pikir kalau ada yang lebih baik, kenapa tidak.

Elemen terakhir yang menurut saya perlu ada adalah mendukung anak semaksimal mungkin. Lagi-lagi ini saya pelajari dari orangtua saya. Dulu, ditengah segala keterbatasan finansial mereka, fasilitas pendidikan full saya peroleh dari mereka. Kadang sedih juga melihat mereka bela-belain beli buku buat saya, bayarin les saya yang lebih mahal dibandingkan spp waktu itu. Usaha mereka untuk membuat saya tetap bisa bersekolah sungguh luar biasa. Mereka sering menasehati saya untuk memilihkan pendidikan yang baik untuk anak-anak saya. Katanya jaman sekarang orang pintar itu banyak, tapi yang akhlaknya mulia itu sedikit. Jadi saya diminta untuk memperhatikan kedua hal tersebut, pintar dan berakhlak mulia.

Bagaimanapun juga, saya harus terus berusaha lebih keras lagi untuk menjadi kebanggaan anak-anak supaya mereka selalu mendoakan saya. Bukankah mereka nanti yang mendoakan kita kalau kita sudah mati. Dan bukankah doa anak-anak kita yang menyambung amal kita kalau kita sudah mati.

Demikian postingan ini saya buat untuk simple thought. Now you know my story..

Wednesday, May 15, 2013

Review on Analisis Indikator Ekonomi Makro Kota Bekasi 2011

Pagi ini, saya membaca file Analisis Indikator Makro Kota Bekasi 2011 yang dirilia Bappeda Kota Bekasi di webnya, bisa diunduh disini dan saya tidak bisa menahan diri saya untuk memberikan sedikit catatan terhadap analisis tersebut.

Hampir seluruh data yang digunakan dalam analisis tersebut menggunakan data dari BPS Kota Bekasi. Dan itu sungguh menyenangkan karena data yang dipublikasikan oleh BPS digunakan untuk analisis semacam ini. Saya sungguh memberikan apresiasi yang tinggi dalam hal ini. Yang menyedihkan adalah penggunaan data tersebut yang kurang baik. Data yang digunakan dalam analisis tersebut antara lain data Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku dan atas dasar harga konstan (yang diturunkan menjadi PDRB per kapita, LPE dan Indeks Harga Imlisit), IPM, Inflasi, Ekspor dan Impor. Berikut adalah beberapa catatan yang perlu dilakukan oleh pembuat analisis tersebut bila tidak ingin tersesat dengan data yang digunakan karena ketidaktepatan penggunaannya.


1. Pengumpulan Data
Disebutkan pada halaman 1-5 bahwa pengumpulan data dengan data primer. Data Primer, yakni data dan informasi yang diperoleh secara langsung di lokasi penelitian dengan tujuan untuk melihat kondisi lapangan secara langsung sebagai bahan perbandingan terhadap data sekunder, begitu yang disebutkan dalam analisis tersebut. Ini sungguh sangat mengganggu, karena semua data yang disajikan dalam analisis tersebut adalah data sekunder. Sebut saja data PDRB, Inflasi, IPM, Ekspor Impor, itu semua adalah data sekunder. Bukan data primer. Kalau data primer diperoleh melalui survei. Data PDRB itu diperoleh melalui survei, Begitu pula dengan inflasi, IPM, bahkan ekspor impor pun yang datanya berasal dari Dinas Perdagangan dan Koperasi diperoleh dari pengumpulan data langsung di lapangan. Lalu, kenapa tidak jujur saja bilang bahwa pengumpulan data yang dilakukan pada analisis ini hanya data sekunder. Menurut saya itu jauh lebih baik dan terkesan tidak membohongi publik, pencantuman penggunaan data primer tidak menambah kekerenan analisis ini bila itu tidak benar.

2. Regresi
Di dalam analisis tersebut, digunakan regeresi linear sederhana. Secara statistik, data yang digunakan untuk melakukan regresii dengan data tahunan yang hanya 7 tahun (2005-2011) kurang memenuhi kecukupan sample (biasanya digunakan setidaknya 30 record data per variable). Sample yang kurang tentunya akan sulit merepresntasikan kondisi yang sebenarnya. Supaya lebih jelas, silakan baca-baca buku statistik deskriptif karangan siapa saja, disana pasti ada pembahasan mengenai hal ini.

3. Perbandingan yang tidak apple to apple
Saya tidak bisa menahan diri untuk memberi tahu ketika membaca tabel 2.4 dan tabel 4.7 yang judulnya Inflasi dan Indeks Harga Implisit diulas dan dibandingkan. Bagaimana mungkin membandingkan Inflasi yang dihitung dari perubahan IHK (Indeks Harga Konsumen) dengan Indeks Harga Implisit yang dihitung dari perbandingan PDRB ADHB dan PDRB ADHK. Sebagai Koreksi, bila ingin membandingkan inflasi dengan deflator, sebaiknya membandingkan inflasi dengan laju Indeks Harga Implisit. Atau bisa juga membandingkan IHK dengan IHI karena keduanya sama-sama indeks. Sedangkan bila membandingkan inflasi dnegan laju IHI, keduanya sama-sama laju dari suatu indeks. Dengan demikian data yang digunakan setara untuk dibandingkan. Kalau membandingkan inflasi dengan IHI, itu seperti membandingkan susu dengan keju. Yang satu merupakan input yang lain. Tapi kalau membandingkan inflasi dengan laju IHI atau IHK dengan IHI itu seperti membandingkan susu sapi dengan susu kambing. Produknya sama-sama susu.

4. Penggunaan PDRB atas dasar harga konstan (ADHK) dan PDRB atas dasar harga berlaku (ADHB) yang masih rancu
PDRB ADHK digunakan untuk melihat pertumbuhan produksi karena sudah mengeluarkan 'efek' harga. Ingat, PDRB ADHK dihitung dengan harga tahun dasar (dalam hal ini tahun dasarnya adalah tahun 2000), jadi semua dihitung berdasarkan harga pada tahun 2000. PDRB ADHB digunakan untuk melihat kondisi perkeonomian saat ini, dihitung dengan harga pada tahun berjalan. jadi, penggunaan PDRB ADHK dan PDRB ADHB harus memperhatikan dengan variabel apa dia disandingkan. Hal ini terjadi pada sub bab 4.9.2 Analisa Pengaruh Inflasi Terhadap PDRB-ADHK. Inflasi itu menggambarkan perubahan harga, sedangkan PDRB ADHK itu sudah mengeluarkan 'efek' harga dengan menggunakan harga tahun dasar 2000. Lalu dimana esensi melihat pengaruhnya? Demikian pula untuk 4.9.4 Analisa Pengaruh Ekspor terhadap PDRB ADHK. Melakukan regresi pada dua variabel yang tidak apple to apple. Ekspor itu data dengan harga tahun berjalan, sedangkan PDRB ADHK dengan harga tahun dasar 2000. Tentu akan terjadi bias. Hal yang sama juga terjadi untuk 4.9.6, 4.9.8 dan seterusnya yang membandingkan dengan PDRB ADHK.

5. Kerancuan analiais
Pada halaman 2-9 dituliskan :

Positifnya nilai ekspor Kota Bekasi dari tahun ke tahun (2005-2011)merefleksikan kondisi surflus, dimana cadangan devisa Kota Bekasi cukup baik dan bisa menghandle atau mengkompensasi nilai impor Kota Bekasi dengan cukup baik pula.

Nilai ekspor memang selalu positif, bagaiamana mungkin nilai ekspor negatif? Mungkin maksudnya nilai ekspor netto. Karena nilai ekspor netto itu artinya total ekspor dikurangi total impor. Bila hasilnya positif berarti ekspor lebih besar daripada impor. Kerancuan semacam ini bisa membingungkan yang membacanya.
Kemudian, pada sub bab 4.8 Analisis Komparatif Dengan Kota/Kabupaten di Jawa Barat, disebutkan :

Selain itu dalam penyusunan indikator ekonomi makro daerah juga biasanya dengan membandingkan data PDRB daerah tersebut dengan daerah disekitarnya melalui analisis Location Quotient (LQ) untuk melihat keuntungan komparatif suatu daerah terhadap daerah pembandingnya.

Tetapi ternyata tidak terdapat nilai LQ. Bahkan metodologi LQ nya sendiri juga tidak ditampilkan. Sebagai bahan koreksi, silakan mempelajari LQ nya disini href="http://kumoro.staff.ugm.ac.id/materi%20kuliah/Analisis%20Shift-Share%20&%20LQ.pdf"

Sebenarnya masih ada beberapa hal lagi yang ingin disampaikan seperti penulisan judul tabel dan grafik yang menggunakan tanda kurung, tetapi lima hal di atas itulah yang paling ingin saya sampaikan. Semoga diperhatikan.

Saturday, May 4, 2013

Day 7. Stories behind the hills

Hari ketujuh ini kami mengunjungi bukit-bukit yang memiliki sejarah selama masa Rasulullah. Ada bukit thur tempat persembunyian nabi ketika dikejar-kejar kaum kafir quraish yang hendak membunuh nabi. Kemudian ada Jabal Rahmah tempat bertemunya Nabi Adam dan Siti Hawa. Tapi saya tidak mendaki bukit-bukit itu.

Kemudian kami mengunjungi padang arafah dan bukit Mina tempat para jamaah haji wukuf dan melempar jumrah. Semoga suatu hari nanti saya kembali kemari untuk berhaji.

Kami melakukan umrah lagi dengan mengambil miqot di Jironah, sholat sunat ihram. Yang lelaki, berganti pakaian ihram. Kemudian kami kembali ke Masjidil Haram untuk umrah lagi.

Pada saat sa'i azan Dzuhur berkumandang, kami langsung sholat berjamaah di lokasi sa'i dengan imam di Masjidil Haram. Di Mekah, apapun yang terjadi, ketika terdengar suara azan, semua aktivitas berhenti untuk sholat.

Day 6. All About Masjidil Haram

30 April 2013

Masjidil Haram saat ini sedang direnovasi hampir separuhnya. Otomatis daya tampung jamaahnya menjadi sedikit berkurang. Saya melihat banyak orang Indonesia yang bekerja di Masjidil Haram, mereka bekerja sebagai cleaning servis yang membersihkan masjid dan sebagai buruh konstruksi pada pekerjaan renovasi masjid. Awalnya saya tidak begitu memperhatikan mengapa banyak orang Indonesia yang bekerja sebagai buruh konstruksi, belakangan saya tahu ternyata kontraktor yang mengerjakan pekerjaan renovasi Masjidil Haram berasal dari Indonesia, PT. Waskita Karya. Pantas saja banyak buruh Indonesia.

Saya sempat berbincang-bincang dengan orang yang bekerja disini. Gaji para pekerja Indonesia masih jauh berada di bawah pekerja dari India. Kita berada sedikit di atas Banglades. Sebagai gambaran, petugas kebersihan di Masjidil Haram dari Indonesia hanya digaji 800 real (1 Real sekitar 2700 Rupiah), sopir digaji 1500 Real. Biaya hidup disini relatif mahal.

Hari ke-enam ini aktivitas saya banyak dihabiskan di Masjidil Haram. Tawaf, membaca Al Qur'an dan sholat. Sebelum pulang saya memuaskan keingintahuan saya dengan mengelilingi masjid ini sendirian. Melihat arsitekturnya, dari atas hingga bawah dan tempat air zamzam yang ditutup karena renovasi. Jadi, mereka menaruh air zamzam dalam tong-tong keramik di dalam masjid. Makanya saya betah banget berada di masjid. Waktu di masjid Nabawi juga ada air zamzam di dalam masjid.

Saya pernah tawaf di siang hari yang sangat terik. Anehnya, ketika tawaf, tidak terasa panas dan lantai terasa dingin. Memang seluruh masjid ini menggunakan marmer putih dan abu-abu. Indah sekali..

Day 5. I only do this for You ya Rabb..

29 April 2013

Perbedaan waktu di Mekkah dengan Indonesia sekitar 4-5 jam. Ini membuat saya masih suka salah memperkirakan waktu sholat.

Menjalankan ibadah umroh membuat saya tak bisa berkata-kata karena merasa benar-benar kecil dan penuh dosa di hadapanNya. Memohon ampunan adalah prioritas doa saya. Selama di Madinah dan Makkah saya tidak pernah sholat di hotel. Saya selalu sholat di masjid, walaupun kaki sampai penat karena bolak balik hotel-masjid dengan jalan yang menanjak. Saya pikir, saya harus memanfaatkan waktu semaksimal mungkin untuk beribadah di Masjidil Haram. Rasanya sangat berbeda ketika kita sholat langsung di hadapan Kabah yang menjadi kiblat seluruh umat Islam di dunia.

Di Masjidil Haram, suasananya selalu ramai sepanjang waktu. Jam berapa pun kita kemari selalu ramai oleh orang yang sholat, umroh atau tawaf saja. Hari kelima ini, kami tidak ada acara lain selain memperbanyak ibadah di Masjidil Haram. It's always make me speechless..

Monday, April 29, 2013

Day 4. It's the real thing..

28 April 2013

Pagi itu saya menyempatkan diri jalan-jalan di main road dekat masjid Nabawi setelah sholat Subuh. Disini banyak burung merpati..Subhanallah.. Banyak yang menjual makanan burung, jadi saya tergoda untuk membeli dan memberi makan burung-burung itu. Rasanya seperti anak kecil, tapi ini sungguh menyenangkan dan menentramkan.

Saya dan hubby berkeliling di pasar yang masih belum buka semua. Kami hanya window shopping hehe.. Toko-toko disini semua yang menjaga laki-laki, mungkin ada yang perempuan, tapi selama saya disini belum pernah melihat penjaga toko perempuan lazimnya di Indonesia. Begitu pula dengan reklame. Di kota ini tidak ada reklame yang ada gambar orangnya baik itu laki-laki maupun perempuan. Reklame disini hanya berisi tulisan dan gambar barangnya saja. Satu lagi, perempuan disini tidak berjalan sendiri, kalau tidak bersama dengan teman perempuannya, ya bersama dengan suami atau ayahnya atau mahramnya. Jadi, saya kemana-mana selalu bersama hubby. Padahal saya sering kemana-mana sendiri.

Umroh ini mengambil miqot di Bir Ali, Madinah. Jadi kami kesana untuk sholat sunat ihrom. Sebelumnya, kami sudah memakai pakaian ihrom dari hotel. Berangkat ke Bir Ali pukul 2 siang waktu Madinah. Kami sholat Dzuhur dan Ashar dijama dulu di masjid Nabawi. Sedih rasanya tidak bisa berlama-lama disini. Kalau saya bilang sedih, itu memang benar-benar sedih yang sampai menangis begitu.

Sebenarnya, perjalanan Madinah-Mekah biasanya ditempuh dalam waktu sekitar 5 jam. Tapi di jalan kami mengalami kendala teknis pada bis yang membawa kami. Sebuah cobaan yang harus dinikmati. Alhasil kami tiba di Mekkah jam 12 malam. Selain kendala teknis itu, di rombongan kami memang banyak yang sudah sepuh, jadi perlu transit sebentar.

Sampai di hotel, hanya untuk makan malam yang tertunda dan menaruh barang bawaan. Kami langsung berjalan menuju Masjidil Haram yang berjarak 300 meter dari hotel. Jam 1.30 pagi kami masuk Masjidil Haram dan disanalah berdiri Kabah. When I stared Kabah.. Subhanallah it's real..

Rangkaian ibadah umroh diawali dengan miqot, lalu tawaf dan sa'i. Tawaf itu memutari Kabah sebanyak tujuh kali sambil mengagungkan kebesaran Allah. Sedangkan Sa'i berjalan bolak-balik antara bukit Safa dan Marwah. Masjidil Haram itu masjid yang sangat bersih, untuk melakukan rangkaian ibadah umroh ini sangat nyaman walaupun banyak orang dari berbagai negara di dunia.

Day 3. The experience of Medina

27 April 2013

Kota Madinah merupakan kota yang bersih. Saya tidak melihat sampah yang menumpuk, entah bagaimana mereka mengelola sampahnya. Di hari ketiga ini, aktivitas lebih banyak difokuskan untuk ziarah ke tempat-tempat yang memiliki manfaat bagi ibadah. Pertama-tama kami mengunjungi masjid Quba, setelah sholat jamaah di masjid Nabawi. Ini adalah masjid yang pertama kali dikunjungi rasulullah ketika hijrah ke Madinah. Dulu Madinah bernama Yastrib. Nah, ketika mampir di masjid ini, Rasulullah disambut dan diterima dengan baik oleh pemuda-pemudanya. Kami sholat tahyatul masid dan sholat Dhuha di masjid ini. Sholat di masjid ini pahalanya lebih besar dibanding tempat lainnya.

Kemudian kami pergi ke Jabal Uhud. Di masa Rasululah, tempat ini merupakan tempat terjadinya perang uhud dengan suku Quraish yang musyrik. Kala itu jumlah pasukan musuh tiga kali lebih besar daripada pasukan Rasulullah. Iklim negeri ini memang berbeda dengan di Indonesia. Saat ini baru mengawali musim panas. Tetapi panas di tempat ini memiliki kelembaban yang rendah dan sedikit berangin, sehingga panasnya tidak langsung membuat kita berkeringat tapi di kulit terasa sakit. Sunblock dan sun glasses adalah suatu keharusan kalau inhin menikmati pemandangan Jabal Uhud dengan nyaman.

Selanjutnya, sopir bus membawa kami ke kebun korma. Di tempat ini ada toko yang menjual korma. Produk unggulannya korma ajwa atau yang dikenal dengan korma nabi. Korma jenis ini adalah korma yang ditanam sendiri oleh Rasulullah. Di toko kebun korma ini, kami minum teh sepuasnya gratis. Teh ini disediakan oleh pemilik kebun untuk pengunjung. Ada gulanya juga lho.. Di dalam toko, kami bisa mencicipi dagangan yang ada disitu. Halal, kata mereka. Ya, bukan cuma korma saja yang dijual disini, tapi ada coklat dan kacang-kacangan. Testernya tidak dibatasi. Itu yang bikin kami tidak enak kalau tidak membeli, walaupun harga disini jauh lebih mahal dibanding tempat lainnya. Ini merupakan teknik marketing yang jitu dari pengelola kebun.

Tidak lama di kebun Korma, kami pergi ke tempat percetakan Al Qur'an. Sayangnya, hanya laki-laki saja yang bisa masuk ke dalam pabriknya. O ya, mereka yang laki-laki mendapat sebuah Al Qur'an seukuran buku tulis, tetapi mereka harus wudhu dulu sebelum masuk pabriknya. Sedangkan buat perempuan, bisa membeli sendiri di toko resmi yang merupakan bagian dari pabrik. Ada banyak ukuran Al Qur'an yang di jual disini, juga ada Al Qur'an beserta terjemahan dalam bahasa negara lain, termasuk Indonesia tentunya. Keistimewaan Al Qur'an cetakan Madinah adalah, walau ukuran kecil, tulisannya tetap jelas dengan kertas yang tipis. Tempat ini tutup setelah jam 12 siang.

Kami mengejar waktu untuk sholat Dzuhur berjamaah di masjid Nabawi. Sehingga tidak pernah lama-lama di satu tempat. Saya dan lainnya bergegas menuju masjid Nabawi, untunglah hotel tempat kami menginap tidak jauh. Tidak sampai lima menit menuju masjid.

Selesai sholat, kami makan dan istirahat sebentar. Kemudian dilanjutkan sholat Ashar berjamaah di masjid Nabawi. Masjid ini jadi terasa makin istimewa buat saya. Ini pertama kalinya saya sholat lima waktu di sebuah masjid. Selesai Ashar, kami melihat Baqi. Itu merupakan tempat pemakaman massal bagi mereka yang wafat ketika sedang umrah atau haji. Ini mengingatkan saya akan kematian.

Selanjutnya kami berkeliling masjid nabawi. Walaupun saya sudah sholat lima waktu di masjid ini, saya belum menjelajahi semuanya. Payung-payung di halaman masjid ini berjumlah 1000 buah. Kubahnya bisa bergeser sehingga sirkulasi udara di dalam masjid terjaga. Sore itu, payung-payungnya menguncup, sebuah pemandangan yang membuat saya takjub. Rasanya sangat modern. Padahal ibu saya bilang itu sudah ada ketika ibu saya naik haji tahun 2003. Ini saya aja yang norak.

Berkeliling masjid Nabawi ternyata memakan waktu yang lama karena selama berkeliling kami disuguhi kisah tentang Rasulullah, hingga tibalah waktunya untuk sholat Maghrib berjamaah. Selesai maghrib, saya tetap berada dalam masjid menunggu Isya sambil membaca Al Qur'an. Jamaah masjid ini kebanyakan berasal dari negara timur tengah. Dari Indonesia juga banyak.. sangat banyak. Kami sangat mudah dikenali disini. Karena secara fisik, postur tubuh kita memang imut-imut, wajah dengan hidung yang mungil, pipi chubby dan doyan belanja. Orang Indonesia memang terkenal tukang belanja dan tukang nawar. Tidak heran semua pedagang disini bisa bahasa percakapan Indonesia. Kita tinggal nanya "ini berapa?" Mereka langsung ngerti dan menjawab dalam bahasa Indonesia juga. Bahkan, rupiah kita juga laku disini. Mereka sendiri yang akan menukarnya, jadi kita bayar rupish saja. Nice business here..hehehe.

Saturday, April 27, 2013

Day 2. Dxb-Jed-Madinah

Setelah menunggu sekitar 6 jam di bandara Dubai, perjalanan dilanjutkan nenuju Jeddah. 6 jam di Dubai membuat saya sangat terkesan dengan salah satu bandara terbaik di dunia ini. Duty free shop nya luas banget, toilet dan prayer roomnya super bersih. Buat penumpang yang transit lama seperti saya bahkan disediakan bangku khusus supaya bisa rebahan. Ini bandara yang nyaman sekali, jangan sekali-kali membandingkannya dengan bandara Soetta, nanti kita malu.

6 jam di bandara ini, seperti biasa saya mengobrol dengan penumpang lain dengan destinasi berbeda. Dia adalah max dari Holland, seorang foundation raiser sebuah NGO yang menurutnya pretty small. NGO nya bergerak di bidang pendidikan. Awalnya dia bertanya mengenai seragam yang sata pakai. Kenapa saya memakai pakaian dengan motif yang sama dengan beberapa orang lainnya. Dia juga tertarik dengan motif batik baju yang saya pakai. Jadilah saya cerita tentang batik sampai scholarship nya StuNed.. hehehe ga dimana2 tetep usaha..

Perjalanan ke Jeddah masih dengan maskapai Emirates tapi jenis pesawat yang berbeda, Airbus 380 yang menurut saya lebih baik daripada Boeing 777 karena kabin kelas ekonominya lebih nyaman, headrest monitor lebih luas dan ada aplikasi Al-Qur'an nya. Perbedaan pesawat Boeing 777 dan Airbus 380 adalah pada kecepatannya. Land speed Boeing 777 adalah 995 km per jam. Sementara Airbus 380 hanya separuhnya.

Sampai di Jeddah pukul 9.30 waktu Jeddah. Dilanjutkan perjalanan melalui darat dengan bis selama 5 jam. Sepanjang perjalanan yg terlihat adalah bukit bebatuan. I have no idea how it happened. Kadang- kadang  terlihat onta di bukit tersebut. Yang saya suka selama perjalanan ini adalah jalannya yang mulus dan tanpa macet. Buat orang yang selalu menghadapi kemacetan setiap hari seperti saya, itu adalah sesuatu..sangat. oh ya satu hal lagi, di jalanan tidsk terlihat orang-orang berseliweran. Berapa sih populasi Jeddah?

Sesampainya di Madinah, kami check in ke hotel. Hotel disini tinggi-tinggi dan besar. Semacam hutan beton yang mengelilingi masjid Nabawi. Sorenya, saya sholat di masjid tersebut. Subhanallah.. masjidnya bagus sekali. Ada payung-payungnya. Memasuki masjid ini harus diperiksa oleh azkar perempuan berjubah hitam dan bercadar. Saya tetap berada di masjid sampai Isya, baru kembali ke hotel.

Setelah makan malam, kami kembali ke masjid untuk sholat di Raudah. Raudah adalah tempat antara rumah nabi dan mimbar nabi. Tempat tersebut merupakan salah satu dari tempat berdoa yang segera diijabah Allah. Bagi perempuan, memasuki tempat ini ada waktu tertentu karena lokasinya di tempat sholat laki-laki. Saya kesana jam 10 malam waktu Madina sampai jam 1 pagi. Ya, kami harus mengantri untuk sholat disana. Sampai hotel, saya langsung tidur :)

Friday, April 26, 2013

Day 1. Jkt-Dxb

Perjalanan ini dimulai dengan berkumpul di bandara Soekarno Hatta pada pukul 13.00. Kami diberi paspor, e-ticket, id card dan snack. Di dalam rombongannkamu, ada seorang anak peremmpuan kecil berusia 3 tahun bernama Aisyah. Juga sepasang calon pengantin yang akan melaksanakan akad nikah di Masjidil Haram bersama orang tuanya masing-masing. Menunggu adalah pekerjaan yang cukup melelahkan, terlebih jika waktu take off nya jam 17.55. Jadi selama menunggu, saya foto-foto dan mengamati sekeliling saya.

Kebetulan tempat kami berkumpul lokasinya di depan atm center. Siang itu sekitar atm tersebut ramai orang yang antri untuk menggunakan atm. Saya lihat bukan penumpang yang banyak menggunakannya, tetapi para pegawai bandara, pramugari dan beberapa pilot. Saya baru sadar kalau hari itu adalah tanggal 25 ketika seorang OB keluar dari bilik atm seraya berkata kepada temannya di luar "belum masuk". Rupanya mereka sedang ngecek transferan gaji. Pantas saja suasana sekitar atm ramai sekali.

Akhirnya jam 16.00 kami mulai boarding dan menjalani serangkaian pemeriksaan surat-surat seperti paspor dan tiket. Kemudian menunggu sebentar dan mulai masuk ke dalam pesawat Boeing 777 dari maskapai penerbangan Emirates. Penumpangnya kebanyakan orang Indonesia yang mau umroh dan orang-orang timur tengah. Pramugarinya adalah orang kulit putih dan ada yang berkulit hitam, cantik-cantik dan ganteng-ganteng. Sebagian saya lihat ramah melayani, sebagian lagi seperti robot hehehe tanpa ekspresi gitu. Dalam perjalanan ini, pesawat mengalami beberapa turbulensi kecil, yang rasanya seperti naik krl di Bekasi. Yang saya suka saat take off adalah front camera view dari pesawat yang seperti pilot's view. Jadi rasanya seperti duduk di kursi pilot.

Kami transit di Dubai. Perjalanan Jakarta-Dubai diperkirakan memakan waktu sekitar 8 jam dan menempuh 6698 kilometer . Saat saya menuliskan ini, saya sedang menunggu flight berikutnya ke Jeddah sekitar 6 jam lagi. Waktu yang cukup lama untuk mengeksplor duty free shop disini.

Wednesday, April 24, 2013

Phone number

Seumur-umur, saya cuma punya dua nomor telpon gsm. Pertama adalah 0815****** yang mulai saya gunakan tahun 2001 dan digantikan dengan nomor 0818****** sejak 2006. Ya, nomor telpon saya memang cuma 10 digit, karena itu nomor lama. Selain nomor itu, saya tidak punya nomor telpon lain yang saya share ke teman-teman dan keluarga. Dulu pernah pakai cdma, karena menang doorprize, tapi kemudian hilang karena jatuh dari saku, dan saya tidak pernah ber-cdma lagi.

Di jaman sekarang, bukan hal yang aneh kalau orang menggenggam dua buah handset hp sekaligus. Biasanya kombinasi blackberry-android, gsm-cdma, no resmi-no promo, atau memang suka jual pulsa elektrik. Saya menuliskan ini karena baru saja bersih-bersih nomor kontak telpon temen-temen. Bayangkan sampai ada yg punya no lebih dari empat. Untunglah saya menyimpannya di google jadi tidak terlalu ribet ketika terpaksa harus ganti handset.

Ada banyak alasan kenapa seseorang punya nomor telpon lebih dari satu. Alasan yang paling sering adalah nomor program promosi yang menawarkan tarif murah. Alasan kedua adalah no yang pertama untuk disebar ke siapa saja, semacam nomor resmi. Dan nomor kedua hanya untuk orang tertentu, seperti teman/kolega dekat dan keluarga. Setidaknya itu dua alasan terbanyak dari teman-teman saya yang memiliki multi numbers. Kalau yang menggunakan no telp untuk internet atau blackberry saja, biasanya tidak pernah dishare ke orang lain.

Ini juga yang terjadi dengan saya. Secara pribadi punya handset lebih dari satu tidak membuat saya memberikan semua no telp saya, karena no telp yang satunya hanya untuk layanan khusus seperti blackberry dan internet. Saya selalu memberikan no telp yang 10 digit itu, walaupun untuk kupon undian atau menelpon radio kalau mau ikut memberikan pendapat dan kuis. Tujuannya cuma satu, supaya konsisten..

Kadang-kadang saya memberi nilai lebih kepada orang-orang yang tidak sering gonta ganti nomor telpon. Kalau boleh jujur, saya lebih respect dengan mereka. Karena mereka menghargai kontaknya dengan tidak sembarangan ganti nomor telpon. Ya memang saat ini harga no telpon baru sangat murah, sehingga setiap orang bisa berganti nomor telpon sesuka hatinya. Tapi konsisten itulah yang memberi nilai tambah pada kontak kita.

Tapi itu memang hak setiap individu untuk memberikan nomor telpon yang berbeda kepada teman atau koleganya. Ini cuma simple thought saya di tengah malam ini karena saya sedang sedih melihat bb saya yang sepertinya sama sekali tidak bisa diperbaiki dan saya harus membackup kontak-kontak saya supaya ga minta invite ulang atau minta no telp lagi.

Ok, sleep tight..

Monday, April 22, 2013

My plan..

Perencanaan itu memang tidak semudah mengucapkannya, tetapi harus dilakukan. Kalau tidak ada rencana, semua jadi serba tak terarah dan penuh kebingungan. Paling tidak itulah yang diajarkan oleh guru-guru saya. Waktu kelas 3 SD, wali kelas saya bilang "monika, kamu harus punya rencana belajar yang baik supaya bisa mempertahankan prestasimu". Waktu itu saya sama sekali tidak mengerti apa maksud wali kelas saya itu. Tapi justru karena saya tidak mengertilah akhirnya kata-kata wali kelas saya itu masih saya ingat sampai sekarang. Kemudian, yang saya tahu ketika kelas 4, nilai raport saya jadi jelek karena saya memang tidak pernah punya rencana apa-apa dalam belajar. Percayalah, saya baru memahami perkataan guru saya itu ketika kuliah. Sungguh terlambat memang, tapi saya tetap mensyukurinya karena masih diberi kesempatan untuk memahami hal tersebut.

Kata orang bijak kalau kita gagal merencanakan berarti kita merencanakan untuk gagal. Masalah nanti hasilnya sesuai dengan yang kita rencanakan, itu soal lain. Tergantung seberapa keras usaha dan kemauan kita serta doa kita tentunya. Kalau masih belum berhasil, mungkin usaha kita yang kurang atau memang itu bukan yang terbaik untuk kita.

Ah, saya bukannya sok bijak atau apa, tapi reality bites. Banyak yang sudah saya rencanakan, tidak terwujud, tapi setelah dipikir-pikir lagi hal itu tidak baik untuk saya dan Allah menggantinya dengan yang lebih baik.

Saya pernah berencana untuk mendapat beasiswa S3 sebelum umur saya 36 tahun. Tapi kesempatan itu baru datang setelah usia saya 37 tahun. Sekalinya ada kesempatan, dua kali saya apply, dua kali itu pula saya gagal. Apa saya menyerah? Tentu saja tidak. Saya tetap mencari cara agar saya pantas menerima beasiswa.

Tadi pagi, saya menerima email mengenai beasiswa S3 dari kantor saya. Membaca subject email itu saja sudah membuat saya melonjak senang. Tapi ketika membaca syarat ketentuannya sepertinya itu bukan untuk saya karena berbeda jurusan. Jadi, saya cuma tersenyum saja sambil ngetwit.

Itulah ya, tidak semua yang kita rencanakan itu terwujud. Menjaga semangat ini juga bukan hal yang mudah, tapi bayangkan kalau kita tidak punya rencana apa-apa dan selalu berkilah biarlah berjalan apa adanya, let it flows gitu... Ah, itu bukan saya..

Friday, April 19, 2013

It's a damn statistics..

Saya baru saja melihat video Kimi Raikkonen sedang berlatih. Kimi adalah driver mobil formula F1. Formula 1 adalah salah satu olah raga berbiaya tinggi dan membutuhkan kebugaran driver yang prima. Tahu tidak, bagaimana seorang driver mobil Formula 1 harus menjaga kebugaran tubuhnya supaya ketika sedang balapan bisa menang. Kebayang ga sih dengan kecepatan lebih dari 300 km/jam dan tikungan-tikungan yang akan menyebabkan gaya sentrifugal, dia harus menahan semua itu supaya mobilnya tetap stabil dalam kecepatan tinggi. Belum lagi tekanan dan panas yang berasal dari dalam kokpit mobilnya plus konsentrasi yang harus dijaga agar tidak bertabrakan atau menyentuh gravel. Pembalap formula 1 juga harus pintar mengatur strategi dan berkoordinasi dengan kru di pitstop dan pitwall supaya bisa juara satu. Jadi, kelihatannya saja gampang hanya memainkan setir, tetapi lebih dari itu, olahraga yang sesungguhnya itu ya di persiapannya itu.

Nah, seperti halnya dengan pembalap formula 1, BPS juga begitu. Persiapan setiap kali akan menyelenggarakan sensus dan survei besar itu sungguh luar biasa. Mulai dari desain kuesioner, uji coba kuesioner, pilot survei, pelatihan, sampai pelaksanaan dan dilanjutkan pengolahannya. Pada saat pelaksanaannya pun memerlukan strategi untuk menjaga time reference dan kualitas. Kemudian juga harus berkoordinasi dengan banyak pihak, sehingga pelaksanaan dan pengolahan datanya berjalan lancar. Tidak sampai disitu, setelah angkanya keluar masih harus dianalisis dahulu, disandingkan secara series beserta indikator lainnya.

Pembuktian datanya? Agak susah memang. Buat saya pribadi, data itu tidak ada yang salah. Yang ada kurang tepat penggunaannya. Karena data se’sampah’ apapun masih bisa digunakan selama tahu bagaimana menggunakannya. Agak berlebihan memang, tapi ini realitanya. Contohnya data kemiskinan. Banyak yang menyatakan data kemiskinan yang ada dan beredar serta digunakan saat ini salah. Harusnya kalau ada data yang salah pasti ada data yang benar. Nyatanya, data yang dianggap ‘sampah’ itu tetap digunakan terutama di kalangan politisi. Sebagian mengklaim keberhasilan kepemimpinannya, sebagian lagi untuk menjatuhkan lawannya. Lalu bagaimana dengan data yang benar? Who knows...

Garis bawahnya adalah, setiap kali kita akan melaksanakan suatu sensus, survei atau kajian, selalu ada tahapan-tahapan yang harus dikerjakan untuk meminimalisir ‘error term’. Angka yang dihasilkan akan selalu mengandung ‘error term. Bukan tidak boleh percaya dengan angka-angak tersebut, tapi bijaksanalah menggunakannya. Pahami dulu konsep definisinya, batasan-batasannya, asumsi-asumsinya. Ingat-ingatlah bahwa. Statistik adalah suatu ilmu yang menghasilkan fakta yang sulit diandalkan dari angka yang diandalkan (Definition of statistics: The science of producing unreliable facts from reliable figures).

Ini cuma simple thought saya hari ini, di tengah penyelesaian pekerjaan angka statistik itu.. ^_^

Friday, April 12, 2013

It's not easy

Pagi ini, playlist utama saya adalah lagunya five for fighting. Yang lagi seneng saya dengerin adalah soundtracknya serial Smallville yang judulnya It’s not easy to be me. Ketika serial ini sedang diputar di sana, di sini sudah ada dvdnya. Waktu itu saya lagi kuliah di Bandung dan kos pula. Tapi saya punya teman baik yang meminjamkan saya dvd serial ini. Hehehe.. Dia seneng aja minjemin film itu ke saya, karena kalau saya sudah nonton pasti dia ngajak saya ngomongin soal ini... eh clark kent begini.. clark kent begitu.. lois begini.. lois begitu. Makasih ya mirz udah minjemin dvd nya.

Lagu it’s not easy itu sendiri bercerita tentang superman yang ternyata dibalik kesuperannya, dia juga punya keinginan sederhana yang mungkin tidak bisa dipahami orang biasa (di lagu ini sih Lois Lane). Gara-gara lagu ini semua memori lama saya ketika kuliah dulu jadi kembali. Sebenarnya itu masa-masa yang ga enak karena jauh dari keluarga, tapi saya mengingat bagaimana semangatnya saya waktu itu menyelesaikan semua tugas dan ujian satu demi satu. Ya, saat ini saya butuh semangat semacam itu lagi dan lagi.

Ini dia lirik It's not easy to be me - nya five for fighting

I can't stand to fly
I'm not that naive
I'm just out to find
The better part of me

I'm more than a bird:I'm more than a plane
More than some pretty face beside a train
It's not easy to be me

Wish that I could cry
Fall upon my knees
Find a way to lie
About a home I'll never see

It may sound absurd:but don't be naive
Even Heroes have the right to bleed
I may be disturbed:but won't you conceed
Even Heroes have the right to dream
It's not easy to be me

Up, up and away:away from me
It's all right:You can all sleep sound tonight
I'm not crazy:or anything:

I can't stand to fly
I'm not that naive
Men weren't meant to ride
With clouds between their knees

I'm only a man in a silly red sheet
Digging for kryptonite on this one way street
Only a man in a funny red sheet
Looking for special things inside of me

It's not easy to be me.

Monday, April 8, 2013

I'm not perfect

Sungguh bulan ini loading pekerjaan begitu bertubi-tubi. Syukurlah double duty itu sudah berakhir. Tapi itu tidak lantas membuat semuanya menjadi lebih mudah. Di bulan ini pun saya punya rencana pribadi yang besar, setidaknya menurut ukuran saya. Jadi semua pekerjaan harus selesai segera dan tepat pada waktunya. Ketepatan waktu itu menurut saya elemen yang penting di dunia ini. Sholat tepat waktu, makan tepat waktu, pekerjaan tepat waktu, sudah pasti akan disukai oleh siapa saja termasuk Sang Maha Besar. Coba saja kalau kita membuat janji dengan orang lain dan orang itu tidak tepat waktu, jengkel kan..

Due date yang saya miliki kali ini memang semena-mena ditengah kesibukan rekan kerja yang lainnya. Tapi ini tidak bisa ditawar dan diganggu gugat. Memang sih kalau sudah tepat waktu juga tidak ada rewardnya, tapi yang pasti banyak orang yang senang dan kita tidak memiliki tagihan lagi. Saat ini, kalau mengukur waktu, loading kerjaan dan tenaganya, rasa-rasanya sulit. Tapi akan lebih sulit lagi kalau tidak dikerjakan. Yah, saya bukan lah orang yang sempurna, tapi berusaha itu harus kan..

Ini adalah simple thought siang ini.. karena harus tepat makan, saya harus segera makan siang...^_^

Sunday, April 7, 2013

Sisi lain perikanan

Setelah dua gelombang secara berturut-turut mengajar calon petugas sensus pertanian 2013, saya merasa wawasan saya semakin bertambah. Pada gelombang pertama, pesertanya berasal dari wilayah yang sub sektor padi dan palawija dominan. Di gelombang kedua ini, pesertanya banyak yang berasal dari wilayah yang sub sektor perikanan nya dominan, yaitu Kecamatan Muaragembong. Kecamatan yang berada di pesisir pantai utara Jawa ini memang merupakan bagian dari wilayah Kabupaten Bekasi yang memiliki garis pantai sepanjang 72 kilometer namun masih terabaikan. Di kecamatan ini, kebanyakan penduduknya berusaha pada sub sektor perikanan dengan budidaya ikan bandeng dan udang. Jadi, peserta di kelas saya mayoritas juga merupakan petani tambak bandeng dan udang.

Seperti biasanya, saya menyempatkan diri berbincang-bincang dengan peserta yang memiliki usaha perikanan. Selain tambak bandeng dan udang, usaha penangkapan ikan di laut dan sungai juga dilakoni oleh sebagian besar penduduk di kecamatan ini. Dari sisi produksi, biaya produksi di bidang perikanan cukup membuat mereka kesulitan dalam melakukan usahanya. Misalnya untuk penangkapan ikan. Kapal yang diperlukan untuk melaut itu harganya mahal, belum lagi solar dan peralatan lainnya seperti jaring dan pukat. Oleh karena itu, ketika melaut mereka melakukannya secara berkelompok dan modalnya ditanggung bersama, termasuk juga menyewa kapal kalau salah satu diantara mereka tidak memiliki kapal. Hasilnya mereka bagi sesuai dengan persentase modal yang mereka setor.

Masalahnya, bagaimana mereka memasarkan hasil tangkapannya? Mereka mengaku menjual langsung di pasar ikan Cilincing dan Marunda. Kebetulan disana sekarang sudah ada tempat pelelangan ikan. Jadi mereka tinggal membawa hasil melautnya kesana untuk dijual.
Hal yang sama juga berlaku untuk mereka yang mengusahakan ikan di tambak. Mereka menjualnya ke TPI, hanya saja sarana transportasinya kurang baik. Mereka juga bercerita kalau saat ini di wilayah mereka yang memiliki tambak dan kapal kebanyakan bukan penduduk setempat. Artinya, kapital yang mereka miliki bukanlah berasal dari daerah tersebut. Mereka hanya merupakan bagian dari faktor produksi.

Biasanya yang dilakukan pemerintah adalah memberikan bantuan modal. Sejauh apa bantuan tersebut bisa meningkatkan kesejahteraan mereka jika sistemnya seperti ini? Sebesar apapun bantuan yang diberikan oleh pemerintah, kalau sistemnya belum mendukung, memang akan sulit untuk mendongkrak kesejahteraan nelayan.

Ini adalah salah satu simple thought hari ini dari pengalaman di tempat pelatihan ini.

Friday, April 5, 2013

Petaniku sayang, petaniku malang..

Hari ini adalah hari terakhir saya mengajar pelatihan sensus pertanian 2013 gelombang pertama dari dua gelombang di Kab. Bekasi. Sedikit merasa ketar ketir apakah materi yang saya sampaikan terterima dengan baik oleh peserta pelatihan. Pasalnya dari 24 peserta, hanya 6 orang saja yang sudah pernah mengikuti pelatihan sensus atau survei yang diselenggarakan BPS. Sungguh, ini merupakan tantangan tersendiri buat saya. Bagaimana caranya agar mereka bisa memahami dan mengikuti konsep definisi dan alur kerjanya BPS. Maklum saja, beberapa di antara mereka adalah petani sungguhan. Beberapa lagi malah seperti fresh graduate dari SMA kalau dilihat tampangnya. Tapi, tampang kan bukan jaminan seseorang akan lebih mudah menerima materi.

Sekarang, mereka sedang menjawab soal pendalaman materi. Perasaan saya jadi harap-harap cemas, khawatir mereka tidak bisa mengisi lembar jawaban mereka dengan benar. Bukankah salah satu cara untuk mengetahui sejauh mana mereka menerima materi itu diukur dari hasil pendalaman ini.. Memang ini bukanlah pengalaman pertama saya mengajar materi sensus atau survei, tapi perasaan seperti ini kerap saya rasakan di akhir pelatihan. Bagaimana tidak, kalau mereka sampai tidak paham betul dengan kegiatan ini, hasilnya sudah dipastikan jauh dari baik.

Sebelumnya, saya sempat berbincang-bincang dengan petani sungguhan yang ikut pelatihan ini. Dia cerita bagaimana proses produksi padi, kendala produksinya, cara menjualnya sampai ketidakpastian harga yang mereka terima dari tengkulak. Jadi, salah satu kendala terbesar mereka dalam proses produksi adalah sulitnya supply pupuk dengan harga yang pas. Seringkali mereka harus berhutang ke supplier pupuk untuk mendapatkan pupuk. Itupun kalau stok pupuknya tersedia. Biasanya mereka harus mengalami penundaan untuk menanam karena pupuknya tidak ada dan harganya mahal.

Dari sisi penjualan juga mereka seperti terperangkap dalam suatu sistem yang seperti vicious cycle atau lingkaran setan. Hasil padi yang mereka peroleh dengan biaya produksi yang cukup besar itu, dijual dengan harga empat ratus ribu per kuintal. Padahal, menurut pengakuan mereka, dari satu hektar lahan sawah menghasilkan lima ton padi atau lima puluh kuintal padi. Bila diuangkan menjadi empat juta rupiah. Ini belum dikurangi biaya produksi seperti pupuk yang harganya 1.900 rupiah per kilo untuk pupuk urea dan 2.300 rupiah per kilo untuk pupuk TSP. Mereka memerlukan dua kuintal urea dan satu kuintal TSP untuk lahan satu hektar. Biaya produksi itu belum termasuk biaya buruh taninya. Mereka membutuhkan waktu sekitar tiga bulan untuk hasil rata-rata 5 ton beras per hektar. Kemudian, mereka menjualnya kepada tengkulak bukan ke KUD. Itu belum mempertimbangkan sistem pengelolaan lahannya yang seringkali tidak dimiliki sendiri oleh mereka.

Miris ya.. tapi itulah kenyataannya. Di dalam ekonomi mikro, dikatakan people respond to incentive. Sekarang bagaimana petani-petani tersebut terpacu untuk meningkatkan produksinya kalau biaya produksinya besar, harga jualnya kecil dan sistem pengelolaan lahan yang kurang fair. Jadi tidak heran kalau generasi mudanya tidak ingin menjadi petani karena prospek sektor pertaniannya tidak cerah. Bahkan petani yang memiliki lahan sendiri, memilih untuk menjual lahannya dan beralih ke sektor lain ketimbang meningkatkan produksi padi. Kalau sudah begini dijamin produksi padi kita akan terus berkuang. Padahal, makanan utama bangsa Indonesia adalah beras yang berasal dari padi.

Sudah jelas peran pemerintah sangat besar di sektor ini. Pemerintah bisa menyederhanakan distribusi pupuk agar harganya bisa lebih murah untuk memangkas biaya produksi. Pemerintah juga bisa menetapkan harga yang 'pantas' supaya kesejahteraan petani terjaga. Misalnya, pada pasar komoditi, pemerintah bisa menetapkan hedging price. Selain itu, pemerintah juga bisa membeli padi yang dihasilkan dan melakukan pengolahannya menjadi beras. Jadi, petaninya hanya akan memikirkan bagaimana caranya supaya produksinya meningkat. Kalau begini kan mereka tinggal mempelajari teknologi peningkatan produksi padi.

Tapi, kenapa pemerintah kelihatan sulit sekali melakukan hal itu? Pemerintah lebih memilih membuka kran impor beras untuk menstabilkan harga beras. Memang dalam jangka pendek, impor beras diperlukan untuk menstabilkan harga, tetapi kalau proses produksinya tidak diperbaiki yang ada kita akan terjebak pada ketergantungan dengan negara lain yang menjadi pengekspor beras. Atau apa memang sudah ada konspirasi internasional supaya Indonesia tidak berkutik dalam ketahanan pangannya? Supaya lebih mudah menguasainya? Perasaan ngeri kini mulai merambati pikiran saya..

Begitulah simple thought hari ini. Saya harus mempersiapkan diri saya untuk mengajar gelombang ketiga di tempat ini juga. Pulang hampir larut malam selama lima hari berturut-turut akan tetal saya lakoni kalau itu bisa membuat Indonesia jadi lebih baik..

Friday, March 22, 2013

Self Reward

Diiringi lagunya the script ft will.i.am yang judulnya hall of fame, saya iseng menuliskan ini di jum'at siang yang ga terlalu asik. Bukan apa-apa, biasanya kalau sudah memasuki medio maret itu, sudah mulai hectic dan ga sempet memikirkan kesenangan diri sendiri seperti menulis begini. Pikiran tidak bisa lagi berkelana kemana-mana kalau begini, harus fokus, stay focus, hard focus..haizz apa ajalah namanya.

Tapi lagu hall of fame nya the script ini benar-benar menyemangati. Cocok jadi personal anthem. Awalnya sering dengar pagi-pagi di acara olahraga di televisi, lama-lama biasa. Kalau lagi mengendarai mbak Silvy, ini enak banget buat di dengar di jalan. Tapi saya sedang tidak ingin membahas lagu ini. Saya lagi mau cerita tentang kesibukan yang sebentar lagi hilang.

Jadi, double duty yang selama ini selalu membuat perhatian saya tertumbuk pada hal seputar pekerjaan, akan segera berakhir. Senang sekali ya.. Senengnya itu seneng banget bukan seneng aja. Tadi orang yang saya plh-in itu datang dan saya mulai mentransfer tugas-tugas yang ada di waktu mendatang. Huaah rasanya lega sekali.

Lalu, saya langsung memikirkan self reward untuk ini.. mmm apa ya kira-kira..

Self reward itu penting untuk menjaga keseimbangan. Ga perlu yang mahal, tapi bikin senang hati aja. Biasanya, saya selalu menghadiahi diri saya sendiri kalau sudah menyelesaikan suatu tugas, misalnya waktu pekerjaan membuat publikasi selesai saya beli sesuatu sebagai hadiah untuk diri saya kalau saya sudah menyelesaikan pekerjaan itu. Maksudnya supaya saya lebih mencintai lagi pekerjaan saya. Dan setelah keluar dari hectic moments ini, saya juga bermaksud menghadiahi diri saya. Contohnya, postcard bergambar menara eiffel yang saya tempel di meja saya merupakan self reward saya ketika saya menyelesaikan pengadaan. Sederhana, tapi setiap kali saya melihat postcard itu rasanya senang aja. Hey, bahagia itu sederhana. Saya sulit menjelaskannya, tapi nyatanya ya seperti itu.

Saturday, February 23, 2013

Shine like a diamond

Pernah mendengar cerita tentang diamond? Diamond atau berlian adalah batu yang paling berkilau di planet bumi. Termasuk benda langka dan memiliki harga yang sangat tinggi. Tapi bagaimana berlian ini terbentuk?

Bahan dasar berlian adalah karbon yang mengalami tekanan sangat kuat di muka bumi, kira-kira 5 giga pascal. Ketahuilah, 5 giga pascal itu sama dengan 725.188,689 psi. Sebagai perbandingan, tekanan angin ban mobil itu biasanya 32 psi. Karbon ini mengalami pemanasan sekitar 1.200 derajat celcius.

Terbayang, kombinasi tekanan, suhu yang tinggi, proses yang lama hingga jutaan tahun bahan miliaran, akhirnya menghasilkan Kristal yang sangat keras dan sangat padat.

Itu pun belum berhenti sampai disini. Karena Kristal berlian itu harus dipotong untuk mendapatkan bentuk yang indah. Yang memotong tentunya orang yang ahli, memiliki pengetahuan dan ketrampilan untuk memotongnya.

Cerita tentang diamond di atas itu, saya dapat dari bukunya Noveldy dan mbak Nunik yang judulnya menikah untuk bahagia. Kenapa saya cerita tentang berlian? Karena saya ingin berlian? Iya lah itu pasti. Tapi saat ini bukan cuma itu, kalau dipikir-pikir (karena ini simple thought, jadi saya mikir yang simple aja) manusia untuk berkilau dan bernilai tinggi juga harus seperti berlian itu. Rela mengalami tekanan, suasana panas, proses yang panjang dan juga harus rela dibuang bagian-bagian buruknya untuk mendapatkan bentuk yang memancarkan kilau yang indah.

Mengalami tekanan hidup, pekerjaan, semacam survivatory sungguh bukan hal yang enak untuk dijalani, tapi itu harus dijalani. Suasana yang tidak enak, atmosfer yang tidak kondusif sehingga rasanya seperti kekurangan oksigen dan membuat dada sesak mau tak mau harus dipaksakan. Mengeluh jelas tidak akan menyelesaikan masalah apa pun. Prosesnya lama dan harus rela dibentuk.

Masalahnya, relanya itu semacam apa? Nah itu..
Macgyver bilang think!

Thursday, February 14, 2013

Komunitas Jalan Perjuangan

Setiap pagi, untuk mencapai kantor tempat saya bekerja, saya melewati jalan yang merupakan jalan utama di wilayah Bekasi Utara. Namanya Jalan Perjuangan. Sesuai dengan namanya, untuk melalui jalan ini juga penuh perjuangan. Asal tahu saja, kepadatan kendaraan bermotor, baik roda dua maupun roda empat di jalur ini luar biasa padatnya pada pagi hari, sore hari, dan weekend pertama tiap bulan ketika pegawai-pegawai sudah terima gaji.

Jalan Perjuangan menjadi jalur utama bagi mereka yang tinggal di sebelah utara Bekasi. Dulu, wilayah utara Bekasi merupakan lahan sawah yang luas. Tapi, seiring bertambahnya jumlah penduduk, lahan sawah tersebut berubah fungsi menjadi perumahan, pabrik, sekolah dan pertokoan. Dan Jalan Perjuangan merupakan akses utama untuk mencapai pusat kota dan pemerintahan.

Saya belum tahu kenapa dinamakan Jalan Perjuangan. Saya menduga-duga saja pasti ada cerita dibalik penamaan jalan itu. Yang jelas dari dulu sampai sekarang melalui jalan tersebut harus penuh perjuangan. Dulu, sebelum tahun 2004, jalan itu rusak parah. Jalan tersebut sering dilalui truk tangki yang mengangkut minyak dari Babelan. Itu menyebabkan kondisi jalan rusak. Tahun 2005, jalan tersebut selesai dicor. Tapi kemudian, semakin banyak saja kendaraan yang melalui jalan itu, sehingga perlu perjuangan lebih untuk melaluinya.

Saya tidak sendiri, setidaknya ada empat orang teman saya lainnya di kantor yang selalu melewati Jalan Perjuangan. Saya menyebutnya Komunitas Jalan Perjuangan. Kalau ada kejadian luar biasa, semisal macet karena kecelakaan atau alat angkut berat yang lewat dan menghalang-halangi jalan, kami selalu mendiskusikannya. Semacam update kondisi lalu lintas lah. Kalau cuaca sedang hujan deras seperti akhir-akhir ini, Jalan Perjuangan selalu macet parah.

Kegiatan lain dari Komunitas Jalan Perjuangan adalah menyusun tips dan trik dalam menjalani kemacetan. Kalau saya ya sudah pasti mendengarkan musik via handphone. Ada juga yang memberi tips untuk zig zag kiri kanan bagi biker di area tertentu untuk melakukan manuver tersebut. Ah namanya juga komunitas, menurut Soenarno (2002), definisi Komunitas adalah sebuah identifikasi dan interaksi sosial yang dibangun dengan berbagai dimensi kebutuhan fungsional. Kira-kira kami berlima ini sudah bisa disebut komunitas tidak ya?

Tuesday, February 12, 2013

Lelah Hati..

Terkadang, saya berpikir saya belum mencapai limit saya. If the sky is the limit, i'm still on the ground. Maksudnya untuk memompa semangat saya kalau lagi down. Bahwa saya tuh belum terbang, masih di tanah, sementara batasan saya itu adalah langit.

Tapi manusiawi juga ya kalau kadang-kadang capek juga. Capek ngadepin palsunya orang-orang, capek dengan atmosfir yang begini, sampai akhirnya saya dengerin lagu ermy kulit yang judulnya lelah hati.. hehehe..

Oke, selera musik saya memang aneh, tapi itu hak saya. Jangan salahin saya kalo saya bisa menikmati hingar bingarnya Muse sampai melow nya Ebiet G Ade. It's my prerogative right.

Lalu saya menuliskan judulnya di status bbm saya judul lagu itu. Kemudian yang terjadi adalah : 80% kontak bbm cuek (ya iyalah emang saya siapa? Artis? Ngarep!), 15% kontak bbm lainnya langsung update status mereka (oh dear.. bb, bb mereka sendiri, suka-suka mereka mau update status apa ga), dan sisanya yang 5% nanyain "kenapa nik.." (yes! Ada juga yang nanya hehehe).

Saking care nya ada yang ngirim begini ke saya..


Oow..did i do something fool today?

Monday, February 11, 2013

Jam 10.10

Saya mengenal istilah jam 10.10 dari sebuah drama korea berjudul BIG, yang dirilis tahun 2012. Di drama tersebut sang pemeran pria (diperankan oleh Gong Yoo) bilang kepada sang pemeran wanita kalau si wanita itu harus mengingatnya karena dia adalah jam 10.10 nya. Jam 10.10 itu kalau digambarkan seperti orang yang sedang tersenyum. Sehingga setiap kali jam 10.10 maka si wanita akan tersenyum karena si pria adalah jam 10.10 nya.

Entah kenapa, seperti layaknya mantra ajaib, sejak saat itu kalau saya melihat jam 10.10 baik itu siang ataupun malam saya akan tersenyum. Saya selalu teringat scene dari drama Korea tersebut. Ketika menonton itu saya memang mengingat neon sign produk jam (kalau tidak salah Rado atau Seiko) di sekitar Jalan Juanda, Pasar Baru,  Jakarta yang memang jamnya menunjukkan pukul 10.10. Saya pikir pantas saja iklan jam itu selalu menunjukkan jam 10.10 karena seperti orang yang tersenyum. Dan senyum itu punya efek yang dahsyat kan..

Sunday, February 10, 2013

Parkir

Hari Minggu ini rencananya ingin memaksimalkan leyeh-leyeh di rumah sambil baca novel, tapi tadi pagi adik yang di Bogor telpon dan mengajak ketemu di rumah orang tua yang berjarak 14 kilometer dari rumah. Sepertinya saya harus telpon ibu saya untuk konfirmasi kedatangan saya dan adik saya, karena rumah ibu saya itu susah parkirnya. Kebayang nanti kalo mbak Silvy (sebutan mobil saya) dan Ce Mumun (sebutan mobil adik saya) datang, tidak dapat parkir.

Dulu, kalau saya ke rumah ibu, bebas mau parkir dimana saja karena belum banyak mobil. Sekarang memang agak repot karena banyak tetangga ibu saya yang parkir di depan rumah.

Saya jadi ingat kemarin juga saya dan hubby kesulitan dapat parkir di metmall. Sepertinya parkir sudah menjadi suatu hal yang perlu diperhatikan pemerintah daerah. Meningkatnya kepemilikan kendaraan roda empat di Bekasi memicu kurangnya lahan parkir di rempat umum. Bahkan ketika saya hendak sholat maghrib di masjid Al Barkah (masjid terbesar di Kota Bekasi), saya juga kesulitan mendapat parkir.

Saya pikir, tidak heran kalau pemprov DKI menaikkan tarif parkir menjadi 4000 per jam karena terbatasnya lahan parkir. Itu akan menstimulus masyarakat untuk menggunakan kendaraan umum ketimbang kendaraan pribadi. Berbeda dengan tarif parkir di Kota Bekasi yang masih 2000 per jam. Kebijakan di DKI biasanya mendapat perhatian bagi Pemkot Bekasi. Ini seperti game theory dimana setiap daerah melirik strategi yang diterapkan daerah sekitarnya.

Tahun 2009, saya pernah mengumpulkan data parkir di empat mall besar di Kota Bekasi. Saya melakukan itu untuk menghitung PDRB subsektor jasa penunjang angkutan. Waktu itu saya mencurigai sepertinya pendapatan dari parkir yang dikelola swasta ini lumayan besar dan memberikan kontribusi yang semakin besar terhadap sektor angkutan.

Saya tidak bisa mengungkapkan hasil survey tersebut karena kerahasian datanya, yang jelas sharenya lumayan. Saya sendiri waktu itu sempat tercengang dengan potensi parkir terhadap sektor angkutan. Perparkiran yang digarap swasta ini memang bisnis yang menggiurkan. Belum lagi parkir di sekitar stasiun dan pintu tol yang dikelola oleh perorangan.

Parkir kelihatannya sepele, tapi nyatanya memiliki potensi untuk dikelola secara profesional demi ketertiban umum.

Friday, February 8, 2013

Perubahan

Ketika sedang wawancara untuk mendapat paspor, bapak-bapak yang mewawancarai saya tertegun waktu saya bilang saya PNS di Badan Pusat Statistik. Katanya dulu dia pernah ikut pelatihan analisis statistik dasar di BPS sekitar tahun 92-an (dia lupa tahunnya).

Lalu, jiwa pencacah saya pun keluar. Saya tanya tahun berapa bapak mulai bekerja di imigrasi. Dia bilang sudah bekerja sejak tahun 1986. Saya berkomentar bahwa bapak ini pasti sudah mengalami banyak perubahan sistem di imigrasi selama bekerja, karena saya hafal betul bagaimana bentuk kantor imigrasi yg selalu saya lewati dulu ketika kuliah. Dia tertawa, katanya dia sudah melalui tiga jaman.

Dia tidak bertanya yang macem-macem lho, cuma mencocokkan data di dokumen dan yang di formulir. Kemudian dia bercerita bagaimana ripuhnya jaman dulu ketika dia mulai bekerja, dilanjutkan penggunaan teknologi komputer.

Terus dia juga cerita bagaimana proses adaptasinya pakai komputer. Sampai akhirnya kita bertukar cerita soal anak. Bahaya teknologi informasi terhadap anak-anak dan lain sebagainya.

Saya jadi tahu anaknya ada 3, yang paling besar kuliah, dan yang bungsu kelas 4 SD. Saya juga jadi mengerti bahwa beliau perlu usaha yang lebih untuk beradaptasi dengan perubahan sistem di imigrasi, mulai dari aturannya, etikanya, teknologinya dan lain-lain.

Saya juga mendengarkan keluhannya mengenai pegawai-pegawai baru yang dianggapnya kurang giat dalam bekerja padahal mereka masuk berbekal ijasah sarjana. Keluhan yang sama yang sering saya dengar di kantor saya.

Alhasil wawancaranya jadi lama. Hubby yang dapat jadwal wawancara lebih dulu terlihat bingung kenapa saya lama sekali. Waktu dia tanya apa yang membuat saya lama, saya bilang "Biasa lah A, jiwa pencacah saya suka muncul di waktu yang tak tepat. Suka kepo aja gitu".

Bapak pewawancara itu telah menunjukkan bahwa apa yang dibilang Charles Darwin tentang bukan yang terkuat dan terpintarlah yang mampu bertahan, melainkan yang bisa beradaptasi terhadap perubahan, memang benar adanya. Kotaro Minami di film serial Satria Baja Hitam bilang : kalau saya tidak berubah, saya tidak bisa menang. Jadi, siap-siaplah berubah!

Menunggu asyik..

Saat menuliskan ini, saya sedang berada di kantor imigrasi, menunggu untuk difoto. Kemudian terlintaslah di benak saya apakah model model kalau mau difoto juga seperti saya, menunggu, menanti giliran di sekitar set foto. Imaginasi saya memang suka berlebihan kalau lagi menunggu. Mungkin aroma bulgari dari emak-emak sebelah saya ini yang bikin saya membayangkan model segala.

Minggu lalu, saya juga dalam posisi yang sama seperti ini. Menunggu ketika sedang memperpanjang SIM di Polres Bekasi. Tapi namanya juga perlu jadi ya dilakoni saja.

Katanya pelayanan publik sudah diperbaiki dan ditertibkan. Nyatanya tetap saja calo bermain. Saya melihat petugas resmi yang terlihat asyik berbicara dengan calonya. Gimana sih? Malahan waktu saya tanya prosedur pengurusannya, si petugas me'refer' ke seorang calo.

Ups, saya tidak bermaksud mengeluhkan pelayanan publik. Hanya saja, saat ini memang pelayanan publiknya belum standar. Tidak perlu jauh-jauh ke ketepatan waktu dan lain sebagainya. Calonya saja masih eksis. Suka tidak suka harus saya akui memang tidak mudah memulai ini semua. Tapi kalau tidak dimulai kapan ada hasilnya.

Ah sebentar lagi nomor antrian saya dipanggil. Saya harus sudahi postingan ini. Padahal wifinya sedang kenceng-kencengnya. Layanan free wifi ini jadi poin positif pelayanan publik. Ya, apapun mungkin di dunia ini untuk berubah lebih baik..

Sunday, February 3, 2013

Bukan Komoditas Biasa

Ketika sedang mengisi bbm di SPBU dekat rumah, hubby secara tidak sengaja bicara mengenai minyak yang merupakan komoditas dengan karakteristik yang khusus. Katanya dibandingkan komoditas lainnya, minyak (sebutan yang lebih sederhana) memiliki serentetan peristiwa yang banyak. Minyak adalah komoditas energi.  Karena minyak lah maka terjadi perang, inflasi, perubahan asumsi, dan menarik minat politikus.

Seperti komoditas lainnya, misalnya jagung atau emas, minyak (dan gas alam, yang memiliki kaitan erat dan perilaku yang sama) merupakan sebuah aktiva yang dapat diperdagangkan di pasar future, dan harganya naik turun mengikuti naik turunnya permintaan di pasar. Namun komoditas energi berbeda karena dua alasan utama.

Pertama, energi merupakan elemen penting bagi negara sehingga politikus cenderung memandangnya sebagai masalah keamanan nasional. Dan jika politikus sudah terlibat dalam sesuatu, maka asumsi yang biasa berlaku mengenai penawaran, permintaan dan harga cenderung tidak bisa lagi diterapkan.

Kedua, harga energi merefleksikan biaya jangka panjang terhadap kumpulan polusi. Membakar bahan bakar fosil menghasilkan campuran gas yang terkait dengan pemanasan global. Dampak tidak langsung semacam ini dari sebuah aktivitas, yaitu ketika tindakan seseorang dapat menimbulkan bahaya atau kerusakan besar terhadap orang lain yang tidak bersalah tanpa disertai keharusan membayar atau bertanggung jawab untuk itu adalah sesuatu yang disebut eksternalitas oleh para ekonom.

Yang membuat saya tersenyum adalah ketika hubby merefleksikan minyak ke dalam puisi yang jadi aneh kalau dibaca. Tapi saya ga akan menyampaikannya, karena ini bukan komoditas biasa..

Saturday, February 2, 2013

Detik

Detik itu aneh, kadang dia seperti FLASH yang berlari cepat dan membuatku tak bisa mengejarnya, tapi kadang seperti KURA-KURA! Lambat!

Kadang detik itu tak suka menunggu, tapi suka sekali membuatmu menunggu

Kadang, detik juga suka membawa pisau, semakin kau melewatinya, semakin dia mengiris-iris hatimu. Perih.

Kadang, detik juga suka membawa bunga, setiap kau melewatinya, perasaanmu menjadi berbunga-bunga. Dan di saat itu, kau tak ingin cepat berlalu.

Kadang ada detik yang membawa balon dan jarum. Dia akan meletuskannya saat kau melewatinya. Kau kaget dan deg-degan. Jantung berdegup kencang.

Kadang ada detik yang tak membawa apa-apa, kau hanya melewatinya, itu saja.

Tapi detik itu menyiapkan kejutan untukmu.

...sadgenic, p62

Di kotaku

Di kotaku,
Hujan dijadikan cindera mata. Boleh kau bawa pulang.
Tapi buat sendiri pelanginya.

Di kotaku,
Pelangi itu seperti gulali. Kalau mau beli
Cukup dengan senyum dari hati.

Di kotaku,
Senja itu seperti sofa. Aku duduk disana
Menunggu terbenam dalam rasa.

Di kotaku,
Kabut berwarna merah muda.
Aku menembusnya ketika menuju senyum darimu.

Di kotaku,
Bintang-bintang bertebaran di laut. Kalau kau mau ucap permintaan, kau pancing saja. Pakai kail doa.

Di kotaku,
Awan jadi pohon. Aku menaikinya. Merebah pada satu rantingnya. Mencuri pandang dari sana.

Mau pindah ke kotaku?
Sebaiknya jangan, nanti populasinya meningkat..

...sadgenic - Rahne Putri, modified

Saturday, January 26, 2013

Ciri Khas Sistem Ekonomi

Saya menjadi follower @felixshiauw sudah cukup lama, saya mengagumi kedalaman ilmunya dan caranya memotivasi umat untuk berada di jalan Islam. Tetapi, selama itu saya tidak pernah membaca bio dari akun twitternya. Baru pagi ini saya membaca bio yang tertulis di akun twitternya, dan itu pun tanpa saya sengaja. Beliau menulis di bio nya : pengemban dakwah | re-establishment of Syariah-Khilafah | membaca untuk menulis, mendengar untuk menyampaikan | dan berharap berbagi surga bersama para syuhada.

Subhanallah.. itu sungguh-sungguh membuat hati saya mencelat.Terutama untuk kata-kata re-establishment of Syariah-Khilafah. Bagaimana tidak, saya sering sekali mengingatkan kepada anak-anak saya bahwa Indonesia itu negara dengan populasi Islam terbanyak di dunia, jadi mereka sebagai orang muslim harus menjadi muslim terbaik di bidangnya supaya Islam segera berjaya kembali. Dan ketika membaca bio felix, saya kembali teringat dan bersemangat untuk menjadi muslim terbaik di bidangnya untuk re-establihment of syariah-khilafah.

Saat ini sebenarnya saya sedang membaca buku Sistem Ekonomi Islam - Prinsip Dasar, yang ditulis oleh Dr. Muhammad Sharif Chaudhry, MA, LLB, Ph,D. Beliau adalah seorang hakim agung di Pakistan dan telah wafat tanggal 29 Juni 2009, semoga Allah mengampuni semua dosanya, menerima semua amal salehnya dan memasukkannya ke dalam surga. Naskah buku ini aslinya dapat didownload di http://www.muslimtents.com/ . Uniknya copyright nya gratis. Saya sendiri sengaja membeli buku ini di toko buku karena memang sangat tertarik dengan ekonomi Islam dan sangat antusias untuk mempelajarinya,

Bab pertama buku ini bercerita tentang ciri khas setiap sistem ekonomi. Dan itu adalah sedikit hal yang ingin saya bagi hari ini. Setiap sistem ekonomi memiliki ciri khasnya sendiri yang menjadi dasarnya. Dari dasarnya itulah maka sistem ekonomi tersebut dapat dikenali. Setidaknya ada 4 sistem ekonomi yang memiliki ciri khas.

Pertama, sistem kapitalis modern. Ini adalah sistem ekonomi yang saat ini banyak dianut oleh negara-negara di dunia. Kapitalisme modern muncul karena adanya industrialisasi yang cepat serta difasilitasi oleh kemajuan yang dicapai oleh manusia dalam sains dan teknologi, didasarkan pada ide perkeonomian pasar bebas, tanpa atau sedikit sekali campur tangan pemerintah di bidang ekonomi, bunga, dan perbankan. Jujur saja, ini adalah sistem ekonomi yang pertama kali saya pelajari dalam hidup saya.

Kedua, sistem sosialisme. Sistem ini muncul sebagai reaksi terhadap kapitalisme. Menganut kontrol negara sepenuhnya terhadap perekonomian dan pemilikan alat produksi oleh negara atau masyarakat. Sistem ini sempat mengalami masa jayanya setelah era perang dunia II.

Ketiga, sistem ekonomi feodal. Feodalisme berarti pemilikan tanah oleh sedikit orang atau keluarga dan menjadikan mayoritas masyarakat sebagai penyewa atau pekerja yang menggarap tanah, baik sebagai budak para tuan tanah atau sekadar berbagi hasil pertanian.

Keempat, sistem ekonomi Islam, yang sedang saya pelajari saat ini. Islam menganut keadilan dan kejujuran di lapangan ekonomi. Menurut Islam, manusia adalah khalifah atau wakil Tuhan dalam seluruh rencana Tuhan, dan telah diberi hak pemilikan terbatas atas alat-alat produksi. Islam mengakui adanya campur tangan negara dalam kegiatan ekonomi demi menjamin kesejahteraan warganya. Penghapusan bunga, pelembagaan sedekah dan zakat, konsep halal dan haram, distribusi kekayaan yang merata, dilarangnya penimbunan dan menekankan pentingnya sirkulasi keakayaan, konsen dengan kesejahteraan kaum miskin adalah ciri khas sistem ekonomi Islam. Saya menuliskan ini dengan apa adanya dari buku tersebut.

Walaupun saya masih dalam proses membaca buku tersebut, tetapi seperti kata felix shiauw dalam bio twitternya - membaca untuk menulis, saya tidak segan untuk menuliskannya.

Tuesday, January 8, 2013

Do Not Assume

Saat ini saya sedang double duty alias merangkap dua tanggung jawab sekaligus. Ini terjadi karena rekan kerja saya yang sedang cuti melahirkan. Jadi, terhitung sejak tahun 2013 ini dimulai, saya memiliki tanggung jawab lebih banyak untuk sekitar tiga bulan ke depan. Sebenarnya ini bukan yang pertama kalinya. Tahun 2011, saya juga pernah mengalami hal yang sama ketika rekan kerja yang bertanggungjawab atas pekerjaan tersebut pensiun. Namun, tetap saja saya mengalami jet lag karena dua jenis pekerjaan yang sungguh berbeda.

Seperti halnya suatu siklus, jenis pekerjaan tambahan ini pun juga mengalami perubahan. Maksudnya, walaupun dulu saya pernah menangani hal serupa, tetapi tetap ada beberapa perubahan. Oh ya, saya biasa menangani masalah teknis, dan double duty nya itu masalah ketatausahaan yang concern sekali di bidang administrasi. Dibandingkan sebelumnya, sekarang ini lebih well organized dan computerized. Jadi sebenarnya ga sulit-sulit amat untuk mengikuti irama dan alurnya. But still, bereaucracy is bereaucracy. Harus ekstra sabar dan tawakal untuk menjalaninya.

Kadang saya suka berpikir mungkin inilah bentuk kasih sayang Allah ke saya untuk melatih kesabaran. Jujur, saya bukan orang sabar. Jadi mungkin ini adalah masa pelatihan saya untuk menjadi insan yang lebih baik.

Terkait dengan sabar itulah, saya punya cerita tentang perlunya sabar nanak nunuk untuk mengikuti irama kerja di bidang ini. Ada beberapa hal yang memang perlu dikoordinasikan dengan instansi lain, dan saya pikir itu hal biasa karena bisa dikomunikasikan dengan teknologi melalui telpon atau email. Tapi nyatanya saya salah. Ternyata perlu usaha lebih dari itu untuk menyelesaikan hal sederhana karena memang SOP nya seperti itu. Saya tidak boleh berasumsi yang bukan-bukan. Segalanya harus jelas terlebih dulu daripada nantinya salah. Mengutip perkataan D.A. Benton, "bertanya lebih baik daripada menebak-nebak, dan kamu akan mendapatkan petunjuk"

Sepertinya ada satu lagi hikmah yang bisa saya ambil dari double duty ini. Saya termasuk seorang introvert yang agak sukar berkomunikasi langsung dengan orang. Mungkin saya sedang dilatih untuk menjadi seorang komunikator yang lebih baik, dan bertemu orang dengan karakter yang lebih beragam lagi. Yang jelas ini pelajaran baru buat saya yang terbiasa membuat asumsi dalam mengalisis. Saat ini do not assume, just ask to make it clear..

Tuesday, January 1, 2013

First post in 2013

Pernah ga merasa waktu itu cepat sekali berjalan. Perasaan baru kemarin hari Jum'at eh tiba-tiba sudah ketemu Jum'at lagi. Perasaan baru kemarin repot banget mengurus anak-anak yang masih kecil, sekarang sudah harus memikirkan kuliahnya. Begitu juga pergantian tahun terasa semakin dekat saja jaraknya. Dulu pertama kali membuat blog ini tahun 2008, sekarang sudah tshun 2013.

Variabel waktu bukan sesuatu yang dipandang sederhana pada semua bidang studi. Bahkan di statistik ada satu bahasan tersendiri mengenai model deret waktu atau time series . Di bidang ekonomi, sosial ataupun teknik, waktu menjadi variabel yang melekat dalam sebuah proses. Bahkan einstein pun sangat tertarik dengan waktu sehingga terciptalah teori relativitas.

Postingan pertama di tahun 2013 ini juga menunjukkan usia blog ini yang semakin menua. Rentang waktu yang semakin melebar itu semoga membuat isi blog ini semakin membaik dan memberi makna.